Kerajinan Buah Kelapa Diharapkan Jadi Ikon Pangandaran

Kelompok Saung Kelapa Kampung Sucen Desa Cibenda Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Kelompok Saung Kelapa Kampung Sucen Desa Cibenda Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran terus melakukan produksi buah kelapa menjadi berbagai bentuk kerajinan yang bernilai ekonomi.

Asep Ali Imron, Ketua kelompok Saung Kelapa, mengatakan, dirinya saat ini tengah fokus melakukan pemberdayaan anggota dan masyarakat mengingat bahan baku kelapa di Pangandaran sangat melimpah sebagaimana lambing kelapa pada logo Kabupaten Pangandaran.

“Buah kelapa sangat bermanfaat sekali dan itu bukan hanya pada buahnya saja, semuanya mulai dari pohon, akar, daun hingga serabut kelapa memiliki manfaat. Dengan konsep pemanfaatan semua dari kelapa, kita yakin penyerapan tenaga kerja bisa dilakukan demi menekan angka urbanisasi,” ujarnya kepada Koran HR beberapa waktu lalu.

Untuk menyamakan persepsi masyarakat terkait ikon kelapa di Pangandaran yang harus benar-benar dirasakan, Asep mendorong masyarakat untuk memanfaatkan kelapa menjadi berbagai bentuk produk yang bernilai ekonomi dengan sentuhan seni, inovasi dan kreatifitas.

“Tempurung atau batok kelapa diolah menjadi bahan kerajinan. Salah satu bentuk inovasi sudah kita hasilkan contohnya seperti lampu kamar, gantungan kunci, asbak, satu set alat rumah tangga seperti gelas dan cerek, hingga bahan pelapis lantai pluring dinding juga fashion seperti tas selempang wanita dan lain-lain. Pada intinya, kalau kita manfaatkan sebaik mungkin pasti menguntungkan,” katanya.

Asep menilai, teknologi tepat guna masih sangat minim. Padahal, untuk memanfaatkan kelapa sangat dibutuhkan sekali, terutama bagi industri kecil. Untuk itu, ia harap adanya perhatian dengan sebuah pelatihan agar SDM para anggotanya yang berjumlah 20 orang terbagi 4 kelompok bisa meningkat.

“Sayang potensi kerajinan dari limbah kelapa belum tersentuh pemerintah. Padahal, dengan ini bisa lebih mengangkat Pangandaran di mata wisatawan baik domestik maupun asing yang mana sangat suka dengan kerajinan dari kelapa,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran Megi R Parlumi mengatakan, pembinaan dan pelatihan industri kecil pengrajin batok kelapa se-Kabupaten Pangandaran merupakan terobosan untuk bisa menjadi inspirasi anggota maupun kelompok yang lain.

“Dari sisi ekonomi, jelas akan menumbuhkan pemberdayaan masyarakat. Bidang ekonomi kreatif ke depan akan membantu setelah melihat prospek yang akan melibatkan stakeholder dinas terkait,” tutur Megi R Parlumi.

Megi yakin, dari sektor pengembangan pariwisata yang bernilai seni akan terus didukung. Ia juga sangat apresiasi terhadap para pengrajin yang memiliki jiwa untuk memajukan Pangandaran dengan karya seninya.

“Dukungan kami secara konkrit akan mengikutsertakan pengrajin di pemeran-pameran baik di Pangandaran maupun luar Pangandaran. Tujuannya tidak lain mengenalkan cinderamata khas Pangandaran,” pungkasnya.

Sementara dari Bidang Perindustrian melalui Kasi industri Logam Mesin Elektronik dan Aneka Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian dan Transmigrasi Kabupaten Pangandaran Nana Ruswana, menyebutkan dengan kerajinan dari limbah kelapa bisa mengurangi urbaninasi karena adanya penyerapan kerja di Pangandaran.

“Dengan melakukan pelatihan-pelatihan, saya yakin akan menumbuhkan jiwa kreatif dan inovatif para pengrajin. Sehingga dari pengolahan buah kelapa tersebut akan banyak sekali menyerap tenaga kerja di Kabupaten Pangandaran ini,” tambah Nana Ruswana.

Salah seorang pengrajin batok kelapa, Elin (40), mengatakan, dirinya menekuni kerajinan tangan dari batok kelapa ini sudah tiga tahun. Saat ini, berkat bimbingan serta pelatihan-pelatihan dirinya menjadi terpacu untuk lebih kreatif dan inovatif.

“Sekarang sudah banyak model serta variasinya berkat kreatifitas dan inovasi. Mudah-mudahan pemerintah daerah mendukungnya,” harap Elin. (Mad/R6/Koran HR)

KOMENTAR ANDA