Nih Aplikasi Smartphone yang Sempat Menuai Kontroversial

Ilustrasi. Photo : net/ist

Berita Teknologi, (harapanrakyat.com),-

Ponsel keluaran sekarang ini bukan hanya digunakan sebagai alat komunikasi saja. Namun juga bisa bermanfaat untuk berbagai macam kebutuhan. Hal tersebut tidak lain karena adanya jutaan aplikasi yang ada di Google Play Store maupun App Store.

Dari jutaan aplikasi yang ada menawarkan berbagai macam manfaat. Akan tetapi juga ada beberapa aplikasi yang menjadi kontroversi, pasalnya aplikasi tersebut dianggap memicu permasalahan.

Apa saja aplikasi di smartphone yang dianggap kontroversi itu? Berikut ulasannya seperti dirangkum dari berbagai sumber.

# AyoPoligami

Dikutip dari play.google.com, aplikasi ini merupakan platform yang berusaha untuk mempertemukan pengguna prianya dengan wanita yang bersedia membuat ‘keluarga besar’ dari satu suami. Para lajang maupun yang sudah menikah, janda atau duda, diterima dengan tangan terbuka di sini.

Sampai saat ini aplikasi yang diperbaharui 6 Mei 2017 ini sudah diinstal antara 5000-10.000 kali.

# FaceApp

Aplikasi ini untuk mengedit bahkan merubah wajah seseorang. Sebelum melakukan pembaharuan, aplikasi FaceApp banyak digandrungi oleh pengguna smartphone. Namun karena adanya fitur baru yang dikeluarkan beberapa waktu lalu yaitu fitur “Ethnicity Change Filters”, akhirnya FaceApp menuai banyak kritikan dan kecaman, karena filter itu seolah-olah memberi kesan rasis dan ofensif. Fitur anyar tersebut ialah filter warna kulit, seperti Black, Indian, Asian, sampai Caucasian.

# I-Doser

Aplikasi I-Doser merupakan aplikasi brain therapy melalui gelombang suara. Baru-baru ini aplikasi tersebut kembali ‘hangat’ dengan kabar miring bahwa pemakai aplikasi I-Doser masuk dalam kategori narkoba digital, karena bisa membuat ketagihan.

Akan tetapi kabar tersebut merupakan berita hoax. Dan Badan Narkotika Nasional (BNN) pun membantah kalau I-Doser tidak termasuk narkoba sesuai UU 35/1999. Sebelumnya BNN melakukan penelitian dan menguji terlebih dulu apakah aplikasi ini termasuk narkoba, namun hasilnya tidak menemukan adanya perubahan pola otak sesudah memakai aplikasi I-Doser. (Adi/R5/HR-Online)

KOMENTAR ANDA

Komentar