Pasca Tenggelamnya Seorang Anak di Citanduy, Walikota Banjar Wajibkan Sekolah Adakan Ekstrakurikuler Renang

Pasca Tenggelamnya Seorang Anak di Citanduy, Walikota Banjar Wajibkan Sekolah Adakan Ekstrakurikuler Renang

Walikota Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih, saat mengunjungi rumah keluarga Meta Kusumasari (13), anak yang tenggelam di Sungai Citanduy. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Walikota Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih, Senin (04/09/2017) lalu, sekitar pukul 14.30 WIB, mengunjungi rumah keluarga korban, Meta Kusumasari (13), warga Lingkungan Cikadu, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, yang tewas akibat tenggelam di Sungai Citanduy pada hari Minggu (03/09/2017) lalu.

Pada kesempatan itu, Walikota Banjar mengucapkan turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Meta Kusumasari, dan mendo’akan agar orang tua korban tetap kuat dan tabah.

“Semoga Meta selalu ada dalam lindungan Allah SWT, dan untuk kedua orang tuanya, semoga diberikan ketabahan dalam menghadapi ujian ini,” katanya.

Walikota juga menghimbau kepada para orang tua untuk selalu menjaga dan mengawasi anak-anaknya, jangan sampai lepas begitu saja. Jika mereka bermain yang sekiranya berbahaya, maka orang tua harus segera menegurnya.

Ia juga akan mewajibkan setiap sekolah dari mulai tingkat SD hingga SMP supaya diadakan ekstrakurikuler olahraga renang. Tujuannya tiada lain agar anak-anak bisa berenang, baik di kolam renang maupun di sungai.

“Setiap ada korban tenggelam, baik di kolam maupun di sungai, pasti alasannya tidak bisa berenang. Untuk itu, mulai hari ini saya akan mewajibkan setiap sekolah yang ada di Banjar dari SD hingga SMP, harus ada ekstrakurikuler olahraga renang supaya anak-anak di Banjar bisa mahir berenang,” tandas Ade Uu Sukaesih.

Orang tua korban, Arifin (41) dan Aisyah (37), tak kuat menahan tangis dan memeluk erat Walikota Banjar saat tiba di rumahnya. Ayah korban, Arifin, menceritakan kepada walikota, bahwa Meta Kusumasari merupakan putri pertamanya yang berperangai baik.

Menurutnya, sebagai anak paling tua, Meta kerap membantu ibunya di rumah dan jarang main seperti anak sebayanya. “Saya begitu terpukul dengan kejadian ini, seakan tidak percaya anak saya meninggal dunia dengan cara tragis,” tutur Arifin, sambil menangis tersedu.

Hal yang sama diungkapkan ibu korban, Aisyah (37). Menurutnya, setengah jam sebelum kejadian korban meminta uang kepadanya untuk jajan makanan ringan di sebuah warung. Namun, tak lama berselang ia mendapat laporan dari warga bahwa anaknya itu tenggelam di Sungai Citanduy.

“Kemudian warga membawanya dengan menggunakan sepeda motor ke RSUD, namun Tuhan berkata lain, anak saya menghembuskan nafas terakhir saat di perjalanan menuju Rumah Sakit,” ungkap Aisyah, sambil menangis. (Hermanto/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles