(Pilkada Ciamis) Demokrat -PDIP Saling Klaim, Hasil Survei Balonbup Jadi Perdebatan

Foto: Ilustrasi net/Ist

Ilustrasi Pilkada. Foto: Ist/Net

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-      

Hasil survei elektabilitas dan popularitas bakal calon bupati (Balonbup) Ciamis yang dirilis sejumlah lembaga survei tampaknya kini menuai perdebatan. Setelah DPC Partai Demokrat Ciamis merilis hasil survei yang dilakukan Jaringan Masyarakat Peduli Demokrasi (JMPD) UIN Sunan Gunung Jati Bandung, tak mau kalah DPC PDIP Kabupaten Ciamis pun merilis hasil survei serupa.

Namun, hasil survei yang dilakukan beberapa lembaga survei itu, terdapat perbedaan hasil yang sangat mencolok. Seperti hasil survei JPMD UIN Sunan Gunung Jati Bandung yang dikontrak oleh Partai Demokrat, menempatkan Herdiat sebagai bakal calon bupati Ciamis yang memiliki elektabiltias tertinggi atau 41,30 persen. Sementara pesaingnya, Iing Syam Arifin, memiliki elektabilitas sebesar 37,50 persen. Survei itu dilakukan pada tanggal 1 sampai 20 Agustus 2017.

Tetapi, hasil itu berbeda dengan hasil survei yang dilakukan Indobarometer. Lembaga survei ini dikontrak oleh DPC PDIP Kabupaten Ciamis dan melakukan survei pada pertengahan bulan Juli 2017. Dalam surveinya, Indobarometer merilis bahwa elektabilitas Iing Syam Arifin berada di posisi teratas atau 48,4 persen. Sementara Herdiat berada di posisi kedua dengan elektabilitas sebesar 17,8 persen.

Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Ciamis, Ohan Hidayat, mengatakan, meski sudah beredar hasil survei yang dikontrak oleh parpol lain, namun pihaknya tetap akan berpegang pada hasil survei Indobarometer yang dikontrak oleh PDIP. Menurutnya, PDIP lebih mempercayai hasil survei yang dilakukan Indobaromter, karena lembaga ini dinilai lebih kredibel.

“Kami menyakini hasil survei Indobaromter, karena lembaga independen ini memiliki kredibilitas yang bisa dipertanggungjawabkan. Makanya, hasil survei Indobarometer yang akan menjadi pegangan kami,” ujarnya, kepada Koran HR, Senin (28/08/2017).

Menurut Ohan, survei yang dilakukan Indobarometer pun dilakukan pada pertengahan bulan Juli dan masih bisa dijadikan pijakan untuk mengukur peta politik Pilkada pada bulan Agustus. “Karena dalam selang waktu 15 hari perubahannya tidak akan terlalu signifikan,” imbuhnya.

Dengan begitu, lanjut Ohan, pihaknya masih menyakini elektabilitas Iing Syam Arifin belum tergeser oleh bakal calon bupati lain. Karenanya, kata dia, PDIP tetap akan memperjuangkan agar pasangan Iing Syam Arifin- Oih Burhanudin kembali memimpin Ciamis untuk lima tahun kedepan.

Ohan menilai sangat rasional apabila kebanyakan hasil survei menempatkan Iing Syam Arifin memiliki elektabilitas dan popularitas tertinggi. Karena, menurutnya, selama kepemimpinan Iing Syam Arifin-Oih Burhanudin, Ciamis mengalami perubahan, terutama dalam bidang pembangunan.

“Tak hanya bidang infrastruktur saja, tetapi bidang kesehatan, pendidikan dan daya beli pun terus tumbuh dan bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat Ciamis. Maka tak heran apabila elektabilitas Iing- Oih masih tinggi dan belum tersalip oleh bakal calon bupati lainnya,” katanya.

Dihubungi terpisah, Wakil Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Ciamis, Nurmutaqin, menyesalkan adanya counter opini dari PDIP setelah pihaknya merilis hasil survei yang dilakukan oleh JMPD Sunan Gunung Jati Bandung.

“Kami mengeluarkan rilis hasil survei bukan untuk diperdebatkan, tetapi langkah itu sebagai bentuk keterbukaan kami dalam proses penjaringan bakal calon bupati yang dilakukan Partai Demokrat,” katanya, kepada Koran HR, Selasa (29/08/2017).

Nurmutaqin pun menjamin survei yang dilakukan JMPD dilakukan secara fair dan objektif serta hasilnya diumumkan secara terbuka. Bahkan, hasil survei ini diumumkan di hadapan seluruh bakal calon bupati Ciamis yang mendaftar ke Partai Demokrat.

“Hasil survei JMPD ini dipersentasikan langsung di depan seluruh bakal calon bupati Ciamis atau perwakilannya. Dan semua bakal calon bupati yang hadir menerima hasil survei tersebut,” katanya.

Nurmutaqin menambahkan, sebelum JMPD melakukan survei, pihaknya terlebih dahulu mengumpulkan seluruh bakal calon bupati yang mendaftar ke Partai Demokrat. Saat pertemuan itu, kata dia, ditetapkan aturan main dalam penyelenggaran survei. “Salah satu aturan main dalam survei ini, yakni pihak dari bakal calon bupati ataupun pengurus Partai Demokrat dilarang menghubungi pihak JMPD. Kesepakatan itu dilakukan agar JMPD melakukan survei secara objektif dan tanpa adanya intervensi,” tegasnya.

Nurmutaqin menjelaskan, apabila ada perbedaan hasil survei JMPD dengan hasil survei Indobarometer tentunya wajar. Karena sepengetahuannya, survei yang dilakukan Indobarometer dilakukan pada bulan Juni dan diumumkan pada pertengahan bulan Juli. Sementara survei yang dilakukan JMPD dilakukan pada tanggal 1 sampai 20 Agustus 2017.

“Selang waktu selama satu bulan lebih wajar saja kalau terjadi perbedaan hasil. Karena peta politik Pilkada Ciamis ini berlangsung sangat dinamis. Kalau bulan Juni Pak Iing masih unggul elektabilitasnya, sementara pada bulan Agustus tersalip oleh Pak Herdiat, tentunya masih masuk akal. Karena pilihan masyarakat dapat berubah. Apalagi dalam jeda waktu satu bulan,” katanya.

Selain itu, jumlah sampel yang diambil oleh JMPD pun sebanyak 1000 responden yang dilakukan secara random di 27 kecamatan di wilayah Kabupaten Ciamis. Dengan sampel lebih banyak, kata dia, tingkat akurasi surveinya pun dapat lebih dipercaya.

“Setalah adanya counter opini dari PDIP, kami justru ingin bertanya, kenapa hasil survei yang dilakukan bulan Juni baru diumumkan sekarang atau setelah Partai Demokrat mengumumkan hasil surveinya. Seharusnya harus survei itu diumumkan pada bulan Juli atau pada saat hasil survei Indobaromter dipersentasikan,” tegasnya.

Seperti diketahui, lembaga independent JMPD UIN Sunan Gunung Jati Bandung yang dikontrak oleh Partai Demokrat, merilis hasil survei tentang elektabiltias dan popularitas bakal calon Bupati Ciamis. Survei diselenggarakan pada 1 -20 Agustus 2017 dengan mengambil sampel 1000 responden. Hasilnya, Herdiat berada di posisi teratas dengan memiliki elektabilitas 41,30 %. Kemudian disusul Bakal Calon Bupati Ciamis lainnya, yakni Iing Syam Arifin 37,50 %, Didi Sukardi 3,70 %, Anjar Asmara 2,20 %, Oih Burhanudin 1,90 %, Yana D Putra 1,00 %, Heri Solehudin 0,50 % Nanang Permana 0,50 % dan Irma Bastaman Haris 0,30 %. Sementara yang belum menentukan pilihan sebesar 11,10 %.

Sementara hasil survei yang dilakukan Indobaromter dan dilakukan pada pertengahan bulan Juli 2017, menempatkan Iing Syam Arifin sebagai bakal calon bupati Ciamis yang memiliki elektabilitas tertinggi atau di angka 48,4 persen. Kemudian disusul Herdiat 17,8 persen, Oih Burhanudin 1,6 persen, Didi Sukardi 1,4 persen, bakal calon bupati lainnya 0,5 persen. Sementara responden yang belum menentukan pilihan sebesar 30,4 persen. Survei ini pun mengambil simulasi 8 nama bakal calon bupati Ciamis. (Bgj/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA