Tinggal di Gubuk Reyot, Keluarga Miskin di Pamarican Ciamis Ini Butuh Perhatian

Gubuk reyot berukuran 4×6 meter yang ditempati pasutri Ayub (46) dan Yani (42), beserta enam orang anaknya, warga Dusun Girimulya, Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis. Photo: Suherman/HR.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Miris, pasangan suami istri Ayub (46) dan Yani (42), warga miskin di Dusun Girimulya, RT.38/08, Desa Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terpaksa harus hidup berdesak-desakan bersama 6 orang anaknya di sebuah gubuk reyot berukuran 4×6 meter.

Pasangan suami istri yang hanya berpenghasilan pas-pasan ini tinggal di sebuah gubuk yang jauh dari tetangga/terpencil. Keluarga ini hanya berpenghasilan kurang dari Rp.30 ribu per-harinya. Jadi, jangankan untuk membangun rumah yang layak, untuk keperluan sehari-hari saja sangat kerepotan. Bahkan lebih mirisnya lagi, anak-anak mereka tidak dapat melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

“Keluarga ini sungguh sangat memprihatinkan. Bukan hanya hidup berdesakan dengan anak-anaknya yang masih berusia dini, tapi anaknya yang sudah menikah juga ikut satu rumah dengan Ayub. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya hidup seperti dia, apalagi rumahnya ini sudah rapuh dan nyaris roboh,” terang Asep, salah seorang warga Desa Neglasari, kepada HR Online, Senin (04/09/2017).

Selain terlilit kemiskinan, lanjut Asep, anak-anak pasutri Ayub dan Yani juga rata-rata tidak mengenyam dunia pendidikan. Ada yang baru kelas dua SD putus di tengah jalan. Hal itu mungkin dikarenakan faktor ekonomi yang sangat rendah, karena Ayub hanya seorang pekerja serabutan.

“Saat ini Ayub hanya bekerja sebagai buruh mengupas kelapa yang bayarannya tidak menentu,” kata Asep.

Sementara itu, Kepala Desa Neglasari, Deni Nono Sunaryo, membenarkan kondisi warganya tersebut. Hanya saja menurut Deni, keluarga Ayub susah diarahkan sehingga pemerintah terkesan membiarkannya.

“Sebenarnya keluarga ini sudah kami arahkan untuk pindah tempat ke lokasi yang banyak penduduk, karena saat ini lokasi rumah dia jauh dari para tetangga, tepatnya ada di pinggir hutan jati yang jauh dari pemukiman warga lain,” ujarnya.

Namun, menurut Deni, Ayub selalu menolak tawaran pihak pemerintah desa. Meski begitu, untuk bantuan sosial keluarga ini selalu menerimanya, seperti program PKH serta program bantuan sosial lainnya, baik itu KIS maupun raskin.

“Hanya untuk bantuan rumah, terus terang dia belum mendapatkannya. Hal itu karena orangnya sulit diarahkan, bahkan saat diarahkan untuk pindah lokasi dia selalu menolaknya,” jelas Deni. (Suherman/R3/HR-Online)

KOMENTAR ANDA