Isu Maha Star, WPA & Dinkes Banjar Ingatkan ODHA Pentingnya ARV

17/10/2017 0 Comments
Isu Maha Star, WPA & Dinkes Banjar Ingatkan ODHA Pentingnya ARV

Halaman fanspage Maha Star di Facebook. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Di tengah aktifitas menanggulangi penyebaran virus mematikan HIV/AIDS di wilayah Kota Banjar, sejumlah Warga Penduli AIDS (WPA) selain menuntut adanya regulasi penanggulangan HIV/AIDS dari Pemkot Banjar, mereka juga mengungkapkan sejumlah kendala di lapangan dalam upaya menemukan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) hingga merujuknya ke layanan untuk mendapatkan teraphy ARV (Antiretroval).

Seperti halnya diungkapkan Rika Setiawati, salah seorang WPA yang bernaung di Yayasan Mata Hati Jawa Barat wilayah Kota Banjar. Sejak dirinya bergabung tahun 2013 lalu, berbagai kendala dalam upaya menemukan ODHA kerap ditemui di lapangan.

Karena memang tidak segampang membalikan telapak tangan. Selain harus berjibaku dengan berbagai komunitas, ia beserta WPA lainnya juga merelakan sebagian waktunya untuk terus berupaya agar virus mematikan itu bisa ditangani secara serius.

Salah satu kendalanya yaitu kemunculan fanspage atau halaman di media sosial Facebook yang mengajak ODHA untuk tidak mengkonsumsi ARV. Fanspage tersebut mengatasnamakan Masyarakat Anti HIV/AIDS dan Stop ARV (Maha Star).

“Memang ada-ada saja kendalanya, sudah regulasi penanggulangan belum juga turun, ada lagi komunitas melalui Facebook mengajak ODHA untuk tidak mengkonsumsi ARV. Padahal, setahu saya, hingga saat ini HIV/AIDS itu belum ada obatnya. Hanya saja cara agar tidak berkembang sudah ada, yakni dengan rutin mengkonsumsi ARV. Ini malah mengajak supaya tidak mengkonsumsi ARV, kan aneh,” tuturnya, di sela-sela diskusi WPA di Sekretariat Yayasan Matahati Jawa Barat wilayah Banjar, Jum’at (06/10/2017).

Ia mengungkapkan, dengan adanya fanspage tersebut, WPA yang bekerja keras secara sukarela tanpa dibayar seperpun dalam kegiatan sosial penanggulangan HIV/AIDS ini, mengajak kepada ODHA maupaun masyarakat untuk tidak mempercayai ajakan Maha Star. Sebab, dengan ajakan itu justru akan mengancam keselamatan ODHA sendiri, serta masyarakat yang tidak mau melakukan tes HIV melalui VCT.

“Repot juga kalau ODHA yang ada mempercayainya. Sebab, jerih payah selama ini untuk melawan virus mematikan itu justru sirna sia-sia dengan ajakan Maha Star yang hanya melalui media sosial,” kata Rika.

Menanggapi hal tersebut, Kasi. Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjar, Eros Aida Ningrum, membenarkan kalau obat untuk HIV/AIDS hingga saat ini belum ditemukan. Meski begitu, ia menegaskan bahwa satu-satunya cara agar virus mematikan itu tidak berkembang biak dan menyebar adalah dengan mengkonsumsi ARV.

“Isu soal fanspage itu memang sudah cukup lama. Namun, di wilayah Banjar sejauh pengamatan kami tidak ada pengaruhnya untuk ODHA di Banjar ini,” terangnya, kepada Koran HR, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/10/2017).

Ia juga menjelaskan, keberadaan komunitas yang mengatasnamakan masyarakat tersebut bukanlah benar-benar masyrakat yang jumlahnya banyak. Akan tetapi, Mahas Star merupakan ODHA yang ada di Bogor, yakni sepasang suami istri yang memutuskan untuk tidak mengkonsumsi ARV dengan berbagai alasan. Salah satunya karena dampak dari mengkonsumsi obat tersebut.

“Wajar saja kalau mengkonsumsi ARV itu dampaknya jadi pusing atau timbul gejala lainnya. Akan tetapi, setelah itu kalau sudah biasa tidak apa-apa. Logikanya, HIV kan belum ada obatnya, lah ini malah mengajak untuk tidak mengkonsumsi obat untuk mencengkram virus yang ada di dalam tubuh. Kalau ODHA tidak mengkonsumsi ARV, tentunya akan sangat fatal hingga kematian,” terangnya.

Meski isu Maha Star pernah ramai di Kota Banjar, Eros mengaku isu tersebut hanya berlangsung sebentar saja dan tidak berdampak signifikan pada proses rutinitas pengobatan ODHA di layanan ARV, yakni di RSUD Banjar.

Ia menambahkan, sampai sekarang jumlah ODHA di Kota Banjar sebanyak 190. Jumlah sebanyak itu berdasarkan akumulasi dari tahun 2005. Data HIV tersebut berbasis layanan, bukan berbasis domisili. Jadi, ODHA dari daerah manapun dilayani di RSUD Banjar.

“Bagaimana pun kita tetap harus berikhtiar agar HIV/AODS tidak berkembang, yakni dengan cara mengkonsumsi ARV bagi ODHA,” tandas Eros.

Dari penelusuran Koran HR, Fanspage Maha Star adalah suatu group yang membongkar segala kebohongan tentang informasi HIV & AIDS serta komersialisasi ARV. Sejak diluncurkannya Fanspage tersebut pada 28 Februari 2016, hingga saat ini sudah diikuti oleh 2.864 akun Facebook dan disukai 2.827 akun.

Sedangkan dalam informasi yang disebar itu, Maha Star hampir rajin mengunggah artikel-artikel yang mendukung agar ODHA tidak mengkonsumsi ARV. Selain melalui Fanspage, Maha Star juga memiliki group tertutup di Facebook dengan jumlah anggota yang mencapai 50.096 member.

Tak cukup sampai Facebook, propaganda yang dilakukannya juga menggunakan media sosial seperti Youtube, Instagram, Blog, serta media sosial lainnya.

Dengan adanya propaganda tersebut, baik WPA maupun pihak Pemerintah Kota Banjar, dalam hal ini Dinkes, berharap setiap ODHA, khususnya mereka yang ada di Kota Banjar, untuk tetap rutin melakukan teraphy ARV. Karena, hingga saat ini cuma ARV yang menjadi satu-satunya cara untuk menekan perkembangan virus di dalam tubuh mereka yang telah terinfeksi HIV. (Muhafid/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!