Kasihan! Keluarga di Ciamis Ini Tinggal di Tengah Hutan

22/10/2017 1 Comment

Faktor kemiskinan membuat pasangan suami istri, Hadilin (62) dan Euis (50), warga Dusun Kertaharja, RT 33a RW 09, Kertahayu, Pamarican, harus rela hidup dalam kesusahan. Bahkan, keluarga ini memilih tinggal di tengah hutan. Foto : Suherman/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Faktor kemiskinan membuat pasangan suami istri, Hadilin (62) dan Euis (50), warga Dusun Kertaharja, RT 33a RW 09, Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, harus rela hidup dalam kesusahan.

Keluarga ini juga harus tinggal di tengah hutan jati milik Perum Perhutani yang berada di wilayah Desa Kertahayu. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, pasangan renta ini hanya mengandalkan hasil dari tanaman palawija  yang ditanam di atas tanah tersebut.

Saat ditemui Koran HR, Selasa (17/10/2017) lalu, Hadilin mengaku sudah lebih dari lima tahun hidup di tengah hutan jati milik Perum Perhutani. Untuk tetap bertahan hidup, dia hanya mengandalakan hasil dari bercocok tanaman palawija.

Menurut Hadilin, selama ini dirinya selalu luput dari segala jenis bantuan sosial dari pemerintah. Bahkan untuk program Kartu Indonesia Sehat (KIS) pun, dia dan sang istri belum menerimanya.

“Karena tidak mempunyai pekerjaan rutin, maka saya mengambil inisiatif untuk tinggal di tengah hutan. Saya meminta lahan untuk bercocok tanam ke Perhutani dengan sistem tumpangsari,” katanya.

Hadilin menuturkan, walaupun sudah diberi tempat serta lahan untuk menanam palawija, hasil yang dia dapat tidaklah seberapa. Namun hal itu tetap dia lakoni demi bisa bertahan hidup. Tanam palawija yang dia lakukan tak selamanya mulus. Seringkali kegiatan tersebut tidak membuahkan hasil lantaran diserang hama.

“Selama hidup saya ini, saya tidak pernah mendapat bantuan apapun kecuali jatah beras rastra yang datangnya satu bulan sekali. Itupun kadang saya hanya bisa membeli sebanyak 5 kg saja. Jika bekal beras sudah habis, maka saya terpaksa harus menyambungnya dengan umbi-umbian dari hasil berladang,” katanya.

Ketua RT 33B, Wahyuni, ketika ditemui Koran HR, Selasa (17/10/2017) lalu, membenarkan kondisi keluarga Hadilin yang memang  sangat memprihatinkan. Menurut dia, keluarga tersebut perlu bantuan dari pemerintah.

”Saya prihatin dengan kondisi keluarga Hadilin. Keluarga ini merupakan keluarga tidak mampu. Kini keluarga ini tinggal di sebuah gubug reyot yang ukurannya sangat kecil. Mereka tinggal di atas tanah milik Ketua RT 33a. Karena tidak mempunyai pekerjaan tetap, maka keluarga ini memilih hidup di tengah hutan jati Perhutani. Disana, mereka bikin gubug untuk berteduh. Mereka turun ke pemukiman sesekali, hanya saat akan menjual hasil tanam palawija,” katanya.

Yuni berharap, keluarga Hadilin mendapatkan bantuan dari pemerintah. Untuk itu, saat ini pihaknya sedang berjuang untuk mengupayakan permohonan bantuan melalui Pemerintah Desa Kertahayu.

Senada dengan itu, Ketua RT 33a, Supena, ketika ditemui Koran HR, Selasa (17/10/2017) lalu, membenarkan, keluarga Hadilin sepantasnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Terlebih keluarga tersebut kondisi ekonominya berada di bawah garis kemiskinan.

“Selain berharap bantuan program KIS, kami juga minta pemerintah memberikan bantuan rumah kepada keluarga miskin ini. Selama ini, mereka tinggal di rumah yang sangat tidak layak,” katanya. 

Di tempat terpisah, Pjs Kepala Desa Kertahayu, Saepudin, didampingi Kasie Kesra, Dede Rusmana, saat dikonfirmasi Koran HR, Selasa (17/10/2017) lalu, tidak menyangkal kondisi keluarga Hadilin.

“Pihak desa saat ini sedang mengajukan permohonan program KIS untuk keluarga Hadilin. Sedangkan untuk bantuan rumah, akan kita ajukan pada anggaran murni tahun depan,” katanya. (Suherman/Koran HR)

About author

Related articles

1 Comment

  1. Saidin October 23, at 14:44

    Kadang pemerintah pusat ciamis masih kurang respon dgn keadaan daerah yg masih tertinggal....contohnya lakbok daerah lumbung padi tapi jalan" masih banyak yg rusak...

    Reply

Leave a Reply