Musim Penghujan, Produksi Bata Merah di Banjar Turun Drastis

Musim Penghujan, Produksi Bata Merah di Banjar Turun Drastis

Produksi bata merah selama musim penghujan menurun drastis, padahal permintaan pasar meningkat sedangkan barang yang tersedia sedikit. Photo: Tsabit AH/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Sejak satu bulan terakhir ini, produksi bata merah menurun drastis. Kondisi ini dipengaruhi oleh cuaca yang kini mulai memasuki musim penghujan. Sehingga, para pengrajin mengalami kesulitan dalam produksi.

Seperti diungkapkan Yayay Ruhyat (53), salah seorang pengrajin bata merah di Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, kepada Koran HR, saat ditemui Senin (13/11/2017) lalu.

“Kalau musim hujan begini, produksi bata merah menurun. Produksinya sedikit otomatis penghasilan juga menurun,” ungkapnya.

Berbeda saat musim kemarau, pembuatan bata merah bisa cepat karena terik matahari memudahkan proses penjemuran bata merah yang masih basah. Sedangkan, saat musim hujan, proses pengeringan saja memerlukan waktu 4 hingga 8 hari.

Yayay mengaku, saat musim kemarau dirinya bisa memproduksi bata merah sampai kisaran 40.000 biji dalam sebulan. Sementara saat ini hanya bisa memproduksi paling banyak sekitar 25.000 biji per bulan. Padahal, permintaan banyak tapi barang yang tersedia sedikit.

“Biasanya pada saat memasuki musim hujan harga jual bata merah akan naik, yang dulu Rp.450.000 per 1000 biji, kini bisa menjadi Rp.500.000 per 1000 biji,” terangnya.

Meski begitu, namun tak sedikit pengrajin bata merah yang memilih untuk tidak memproduksi saat musim hujan. Selain karena cuaca, mereka juga mengeluhkan saat musim hujan harus ekstra dalam membuat bata merah. Mereka harus menutup bata merah dengan plastik, baik yang sudah kering maupun masih basah, supaya saat hujan datang dengan tiba-tiba semuanya sudah tertutupi.

Keluhan serupa juga diungkapkan Rusmawan (41), pengrajin bata merah lainnya, bahwa pada musim penghujan jumlah produksi bata merah mengalami penurunan hampir mencapai 50 persen dari produksi pada musim kemarau.

Menurut Rusmawan, pada musim kemarau, dalam 15 hari biasanya bisa memproduksi bata merah sebanyak 4.000 biji yang siap jual. Namun, di musim penghujan dirinya hanya mampu menghasilkan produksi 2.500 biji bata merah siap jual.

Untuk harga satuan bata merah dijual senilai Rp.550. Harga tersebut merupakan harga pada umumnya dan harga itu bisa naik pada saat permintaan bata merah di pasaran meningkat.

“Ini 1.000 biji bata merah yang saya buat tiga hari lalu, sekarang masih basah karena tidak ada sinar matahari. Kalau untuk bahan baku saya sendiri punya tanah liat, jadi saya hanya butuh kayu saja untuk proses pembakaran. Untuk kayu bakar, saya membeli dengan harga 400 ribu rupiah per mobil pickup, dan itu biasanya cukup untuk membakar 4.000 biji bata merah,” tuturnya.

Karena produksi bata merah menurun, saat ini Rusmawan memilih bekerja serabutan supaya bisa menutup biaya kebutuhan setiap hari yang tidak mungkin hanya dibebankan pada pendapatan dari produksi bata merah.

Pengrajin bata merah lainnya, Hasno Sutarno (50), mengaku kalau dirinya tidak memiliki bahan baku sendiri. Sehingga, semua kebutuhan bahan baku seperti tanah liat dan kayu bakar, harus membeli ke warga yang memilikinya.

Satu mobil pickup bahan baku tanah liat dibelinya seharga Rp.100.000, itu untuk mencetak sekitar 800-1.000 biji bata merah. Sedangkan, bahan baku kayu bakar dibeli dengan harga Rp.400.000 per mobil pickup.

“Karena selama musim hujan produksi menurun, saya mencari kerja serabutan sambil menunggu proses produksi selesai. Ini supaya dapur tetap mengepul,” kata Hasno. (Tsabit/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles