Mahasiswa di Banjar Diminta Aktif Kampanyekan Bahaya HIV/AIDS

Ketua BEM STIKes BP Banjar saat berdiskusi soal penanggulangan HIV/AIDS di sekretariat PMII Kota Banjar yang terletak di Dusun Rancakole, Desa Mulyasari. Foto: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Keberadaan pelajar hingga mahasiswa yang masuk dalam kelompok usia produktif mulai dari usia 15-24 tahun cukup rentan terhadap ancaman penyebaran HIV/AID. Karena hal itu, upaya pencegahan melalui sosialisasi di sekolah maupun di kampus menjadi penting untuk terus digalakkan.

Seperti yang diungkapkan Ketua BEM STIKes BP Banjar, Dewi Kartikasari, bahwa, mahasiswa merupakan agent of change memiliki tanggung jawab sosial di tengah-tengah masyarakat selain melakukan aktifitas akademik di kampus, termasuk dalam rangka mendukung penanggulangan persoalan HIV/AIDS.

“Kami melihat, peran kaum intelektual dalam mengkampanyekan penanggulangan penyakit yang belum ditemukan obatnya ini sangat penting. Apalagi ketika melihat Kota Banjar yang kecil ini justru HIV/AIDS terus membayang-bayangi para pemuda,” kata Dewi kepada Koran HR saat berkunjung ke Sekretariat PMII Kota Banjar di Dusun Rancole, Desa Mulyasari, Selasa (05/12/2017) lalu.

Meskipun saat ini para aktivis HIV/AIDS serta KPA Kota Banjar terus melakukan sosialisasi serta upaya pencegahan lainnya, kata Dewi, namun ia mendorong mahasiswa yang ada di Banjar untuk ikut bersama-sama menyelamatkan generasi penerus dengan ikut terlibat aktif mengkampanyekan bahaya HIV/AIDS.

“Dalam waktu dekat ini, kita akan menggelar seminar soal HIV/AIDS untuk kalangan mahasiswa se Kota Banjar. Tentunya ini merupakan bagian upaya kita dalam mendukung pemerintah untuk mewujudkan generasi muda Indonesia yang sehat,” pungkasnya.

Hal senada juga diungkapkan Sirojul Muntaha, Ketua PMII Kota Banjar. Menurutnya, peran aktif mahasiswa sebagai insan akademik perlu diimbangi dengan peran aktif di tengah-tengah masyarakat dalam melihat fenomena sosial, termasuk penyebaran HIV/AIDS di kalangan usia produktif.

Ia menilai, selain upaya serius yang dilakukan para aktivis HIV/AIDS maupun KPA, juga perlu adanya kebersamaan semua elemen kepemudaan dalam menanggulangi serta mengkampanyekan bahaya HIV/AIDS.

“Saya kira kalau semua OKP di Banjar bisa sama-sama dalam hal ini, angka HIV/AIDS di Banjar saya yakin bisa ditekan. Apalagi jika semua mahasiswa yang ada di Banjar ikut berperan aktif,” katanya. (Muhafid/Koran HR)

KOMENTAR ANDA