Pelaku Dugaan Penganiayaan Berencana di Pangandaran Berusia 15 Tahun, Kuasa Hukum Desak Tak Ada Diversi

Mohamada Samino, korban dugaan penganiayaan berencana. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Kuasa hukum Didik Puguh Indarto terus mendorong kejelasan kasus kliennya yang menjadi korban dugaan penganiayaan terencana dengan ddipukuli secara bertubi-tubi hingga mengalami luka lebam di bagian mata sebelah kiri, bibir dalam luka, kepala hingga badan yang menjadi sasaran penganiayaan tersebut beberapa waktu lalu.

Klien yang bernama Mohamad Samino yang dipukuli R, A dan D, harus dilarikan ke RS Siaga Banyumas. Sebab, diduga Samino mengalami gangguan syaraf mata dan juga pada bagian otak kecilnya setelah dipukul pelaku di bagian kepala belakang.

“Kita masih menunggu hasil observasi medis. Meski dari 3 pelaku dan 2 di antaranya sudah ditahan, namun satu pelaku lainnya, D (15), saya dengar justru diversi oleh Kepolisian. Karena itu, kami sangat menyesalkan keputusan tersebut. Sebab, dalam aturan diversi itu untuk anak di bawah 14 tahun dan ancaman pidana penjaranya yang disangkakan di bawah 7 tahun,” jelasnya kepada HR Online, Jum’at (08/12/2017) lalu.

Dalam aturan, papar Didik, diversi itu syaratnya hanya 2, yakni umur pelaku di bawah 14 tahun dan ancaman pidana penjara dibawah 7 tahun. Sementara itu, jika pelaku tersebut jelas usianya 15 tahun dan kejahatan berencananya berdampak pada luka berat terhadap korban sesuai hasil observasi medis, maka dapat diancam maksimal 8 tahun penjara. Hal ini, kata dia, sebagaimana dalam KUHP pasal 353 ayat 2.

“Ini belum lagi soal tindak pidana penyekapannya yang jelas-jelas melanggar pasal 333 KUHP dengan ancaman maksimal 9 tahun penjara. Saya meminta pihak Kepolisian tidak menerapkan diversi kepada pelaku agar tidak menabrak aturan, yakni pasal 32 ayat 2 dalam UU SPPA. Kalau nantinya diversi dilakukan, justru akan membuat malu yang berwajib nantinya  dan aturan yang dipakai mau yang mana?,” pungkasnya.

Dikonfirmasi perihal tersebut, Kapolsek Pangandaran, Kompol Suyadi, mengatakan, tersangka saat ini sudah dikirim ke Polres Ciamis dan pelaku yang di bawah umur dibawa ke Balai Pemasyarakatan (Bapas) Garut yang mana dijadikan anak negara. Menurutnya, penanganan kasus anak tersebut bukan dihukum, akan tetapi hanya ditetapkan dan dibina oleh negara.

“Itu berlaku untuk 17 tahun ke bawah. Adapun dari Bapas Garut untuk sementara menitipkan pelaku di Yayasan Padaherang, dan diversinya belum dilaksanakan,” tulis Kompol Suyadi melalui pesan WhastApp-nya kepada HR Online, Sabtu (09/12/2017) lalu. (Mad/R6/HR-Online)

KOMENTAR ANDA

Komentar