Paska Gempa Tasikmalaya, Keluarga Miskin di Ciamis Ini Terpaksa Tinggal di Kandang

Paska Gempa Tasikmalaya, Keluarga Miskin di Ciamis Ini Terpaksa Tinggal di Kandang

Paska gempa bumi berkekuatan 6,9 skala ritcher beberapa waktu lalu, satu keluarga di Dusun Sukamaju, RT 21 RW 06, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, terpaksa tinggal berdesak-desakan di sebuah kandang kambing. Foto : Suherman/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Paska gempa bumi berkekuatan 6,9 skala ritcher beberapa waktu lalu, satu keluarga di Dusun Sukamaju, RT 21 RW 06, Desa Sukajaya, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, terpaksa tinggal berdesak-desakan di sebuah kandang kambing.

Informasi yang berhasil dihimpun Koran HR, Selasa (02/01/2018), menyebutkan, kandang kambing tersebut ditempati enam anggota keluarga, terdiri dari seorang kakek, anak, menantu dan cucu.

Sarti (32), ketika ditemui Koran HR, Selasa (02/01/2018), mengaku, setelah gempa bumi beberapa waktu lalu, rumah milik bapaknya rusak parah dan tidak bisa lagi ditempati. Kini, dia dan keluarga terpaksa tinggal di kandang kambing berdesak-desakan.   

“Setelah diguncang gempa rumah bapak atapnya amburadul, sehingga setiap kali hujan kami selalu kebasahan, terlebih kondisinya membahayakan bagi keluarga saya, apalagi saya mempunyai anak kecil. Maka dari itu kami sepakat untuk pindah meski harus di tempat yang sempit, karena kami saat ini mengisi bangunan bekas kandang kambing,” katanya.

Menurut Sarti, dia dan keluarga baru mendapatkan bantuan sembako dan terpal yang kini digunakan untuk menutup atap kandang. Dia berharap pemerintah segera memberikan bantuan renovasi rumah. 

Kepala Dusun Sukamaju, Iwan Setiawan, ketika dikonfirmasi Koran HR, Selasa (02/01/2018), membenarkan, saat ini keluarga Kakek Sartam, terpaksa tinggal di bekas kandang kambing karena rumah miliknya rusak akibat gempa.

“Sejak gempa, keluarga ini memilih untuk berbenah dan tinggal di kandang kambing. Sebenarnya kami merasa iba dengan kondisi mereka. Tapi apa boleh buat, kami juga memiliki keterbatasan,” katanya.

Iwan menjelaskan, jauh hari sebelum terjadi gempa, pihaknya sudah mengajukan program bedah rumah tidak layak huni kepada pemerintah. Dari 200 unit yang diajukan kepada pemerintah hanya 5 unit yang terealisasi. 

“Saat pengajuan, rumah milik kakek Sartam merupakan rumah dengan kondisi rusak paling parah,” katanya. 

Pantauan Koran HR di lapangan, kondisi ekonomi yang sangat lemah membuat keluarga miskin di Desa Sukajaya ini harus rela tinggal berdesakan di sebuah kandang yang sebenarnya jauh dari kata layak. Bukan hanya ancaman kesehatan, tapi ancaman bahaya lain pun harus mereka tanggung demi untuk bisa bertahan hidup. (Suherman/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles