Sabtu, Agustus 20, 2022
BerandaBerita TerbaruKomunitas BIMa Sebar Quisioner di 4 Kecamatan

Komunitas BIMa Sebar Quisioner di 4 Kecamatan

Banjar, (harapanrakyat.com),- Untuk mengetahui keinginan masyarakat mengenai sosok seperti apa pemimpin Kota Banjar ke depan, komunitas Banjar Inspiratif Mandiri (BIMa) mengadakan jajak pendapat. Jajak pendapat dilakukan secara acak dengan tokoh masyarakat, agama, pemuda, mahasiswa, para pedagang kecil maupun pedagang pasar, penarik ojeg dan becak, melalui pengisian quisioner.

Hingga sekarang jajak pendapat tersebut telah berlangsung selama satu minggu. Ditargetkan akhir November ini semua hasil pengisian quisioner yang disebar di empat kecamatan sudah bisa terkumpul. Selanjutnya akan dianalisa oleh tim ahli analisis dari Bandung.

Menurut koordinator BIMa, Iwan Syarifudin, bahwa apa yang dilakukan pihaknya tidak ditumpangi kepentingan-kepentingan politis. Tapi benar-benar murni untuk menjaring aspirasi dari bawah dengan melibatkan keterwakilan semua unsur kalangan masyarakat.

“Alhamdulillah ternyata apa yang kami lakukan mendapat respon positif dari semua kalangan masyarakat. Sebelumnya kami juga menjelaskan pada mereka maksud dan tujuan diadakannya jajak pendapat dengan cara mengisi quisioner ini,” katanya, Minggu (30/10).

Namun, lanjut dia, memang ada juga yang menuding untuk kepentingan politis semata. Tapi hal itu tidak jadi hambatan, dan pihaknya tetap berjalan sesuai komitmennya, yakni menjaring aspirasi dari masyarakat untuk kemajuan Kota Banjar ke depan.

Sebab, diperkirakan pada Pilkada Banjar tahun 2013 mendatang adalah kebangkitan Kota Banjar ke dua. Dengan demikian maka masyarakat berkeinginan memiliki sosok pemimpin yang lebih baik lagi.

Komunitas BIMa Terinspirasi Obrolan di Warung Kopi

Lanjut Iwan, munculnya ide untuk menjaring aspirasi masyarakat itu berawal dari seringnya berinteraksi dengan berbagai kalangan yang dilakukan di warung kopi. Orang-orang yang terlibat di dalamnya memiliki latar belakang berbeda tetapi punya cita-cita sama, yakni perubahan ke arah lebih baik lagi, dari segi politik, ekonomi, budaya dan lainnya.

Di negara maju, obrolan di kedai kopi berpengaruh terhadap persoalan-persoalan politik. Termasuk juga masalah ekonomi, pemerintah dan birokrasi. Hal ini sudah berjalan dan berkembang sejak lama. Misalnya di Perancis, perubahan ekonomi, politik dan kekuasaan berawal dari obrolan kecil di kedai kopi.

“Perubahan besar dapat dimulai dari obrolan kecil. Bisa juga dengan suasana yang egaliter, sukarela, dan diselingi candaan menyegarkan, hal itu membawa pelakunya dalam suasana ringan. Intinya, obrolan di warung kopi seperti ini adalah ruang diskusi terbuka. Diskusi yang meruntuhkan sekat-sekat ideologi karena pandangan orang bisa berbeda, tapi apa yang diperjuangkannya sama,” tuturnya.

Hal itu dilakukan oleh komunitas BIMa yang peduli demokrasi, kemudian mencari solusi dari persoalan yang dihadapi masyarakat. Hasil diskusi itu sering disampaikan kepada media massa maupun elektronik.

Iwan menambahkan, diadakannya jajak pendapat tersebut juga sebagai ajang silaturahmi dengan para tokoh masyarakat, agama, pemuda, aktivis sampai ke akar rumput masyarakat. (Eva)