Banjar, (harapanrakyat.com).- Sejak awal semester II kemarin, SD Negeri 3 Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, mewajibkan semua anak didiknya memakai pakaian adat Sunda, sekaligus menggunakan bahasa Sunda setiap hari Sabtu. Program itu lahir dari visi misi sekolah, yakni menjaga dan ngamumule budaya sendiri.
Kepala SD Negeri 3 Hegarsari, Deni Sutardi, S.Pd, mengatakan, program tersebut tidak diterapkan begitu saja, namun melalui proses pemberitahuan, perijinan serta pertimbangan dari pihak sekolah kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar, maupun orang tua siswa.
âIntinya, selain untuk menjaga dan ngamumule budaya sendiri, program itu juga seiring dengan kembalinya Bidang Kebudayaan ke Dinas Pendidikan. Maka otomatis keinginan kami ini akan sinkron,â kata Deni, Sabtu (16/2).
Lebih lajut dia mengatakan, sebelumnya penggunaan pakaian adat dan bahasa Sunda hanya diwajibkan kepada guru-gurunya saja, yaitu sejak Oktober tahun lalu. Setelah pihaknya meminta pendapat tentang program tersebut kepada pihak dinas, ternyata mendapat respon baik, dengan catatan harus dimusyawarahkan dulu bersama orang tua murid.
Sedangkan, mengenai dipilihnya hari Sabtu, menurut Deni, hal itu sesuai aturan Walikota Banjar, bahwa kalau hari Sabtu diperbolehkan memakai pakaian bebas tapi sopan. Selain itu, jadwal kegiatan belajar mengajar pun tidak padat.
Berdasarkan hasil musyawarah dengan para orang tua murid, diluar dugaan semuanya merespon baik. Bahkan ada orang tua yang berasal dari luar Jawa merasa diakui, meskipun anaknya belum bisa berbahasa Sunda secara baik dan benar.
Dalam musyawarah itu disepakati bahwa untuk murid laki-laki menggunakan pakaian kampret/pangsi warna hitam dalamannya baju kaos, serta memakai ikat kepala. Sedangkan, untuk murid perempuan memakai kebaya, dan bawahannya menggunakan kain barong.
Deni menambahkan, beberapa waktu lalu pihaknya menerima kabar baik, yaitu sekolahnya akan mendapatkan dana bantuan dari APBN sebesar kurang lebih Rp.70 juta. Dana tersebut digelontorkan oleh Kemendikbud untuk pembelian seperangkat alat musik tradisional.
âUangnya memang belum turun. Nanti kalau sudah turun, untuk pembeliannya kami akan mencari rekanan yang bisa menyediakan seperangkat alat musik tradisional,â katanya.
Ketika alat musik sudah kumplit, kedepan pihaknya berharap memiliki ruang khusus kesenian, agar siswa-siswi SD Negeri 3 Hegarsari saat lulus nanti mampu memainkan salah satu waditra dengan baik.
Saat ini sekolah tersebut memiliki jumlah murid sebanyak 148 siswa, tenaga pengajar definitive 8 orang, dan tenaga sukwan 2 orang.
Di tempat terpisah, Kabid. Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar, Anda Gandara PK, S.Pd., Senin (18/2), mengatakan, pihaknya akan mengajukan kepada Walikota Banjar supaya SD Negeri 3 Hegarsari menjadi SD IPK Bidang Kebudayaan, karena telah mampu menciptakan sekolah yang merintis sehari memakai pakaian adat dan bahasa Sunda. (HND)