Minggu, Mei 29, 2022
BerandaBerita BanjarDCKTLH Banjar Bantah Warga Tolak Perluasan TPA Cibeureum

DCKTLH Banjar Bantah Warga Tolak Perluasan TPA Cibeureum

Seorang Pemulung tampak tengah mengais rezeki di TPA Cibeureum Banjar.

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kepala Bidang Kebersihan Dinas Cipta Karya, Kebersihan, Tata Ruang dan Lingkungan Hidup (DCKTLH) Kota Banjar, Asno Sutarno, SP., MP., membantah tentang adanya penolakan dari warga Desa Cibeureum terkait dengan rencana perluasan lahan TPA Cibeureum.

Dia mengatakan, berdasarkan hasil dari dengar pendapat yang digelar di Kantor DPRD Kota Banjar, Senin (19/05/2014), antara pihak DCKTLH dengan BPD dan kepala desa setempat, bahwa masyarakat di sekitar lokasi TPA tidak ada yang menolak mengenai rencana tersebut.

“Masyarakat di sekitar TPA tidak menolak dengan rencana perluasan lahan. Justru kalau misalkan lokasi TPA dipindah, maka ada sekitar 30 orang pemulung, warga sekitar akan kehilangan mata pencaharian. Dalam sehari mereka rata-rata dapat 80 ribu rupiah. Jadi masyarakat tidak ada masalah,” kata Asno, kepada HR, Senin (19/05/2014).

Sedangkan mengenai pencemaran lingkungan yang ditimbulkan dari timbunan sampah di TPA, Asno menegaskan, sampah berbau itu karena baru masuk ke TPA. Namun setelah diproses baunya hilang.

Sampah baru masuk TPA langsung diproses, sehingga selain tidak lagi menimbulkan bau, lalat pun hilang. Dengan begitu, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TPA Cibeureum tidak akan terkena dampak dari pencemaran lingkungan.

“Untuk perluasan, lahan yang digunakan itu bisa ke daerah bawah yaitu ke areal sawah yang ada di bawah TPA, atau bisa juga ke sebelah Timur dan Barat. Namun, mengenai perluasan nanti akan melihat situasional,” katanya.

Selain itu Asno mengatakan, bahwa untuk pengelolaan persampahannya tetap dikelola dengan metode 3 R, yakni Reduce (mengurangi timbunan sampah), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang).

Metode 3R ini dimaksudkan tidak untuk merubah secara total metode konvensional yang telah terjadi, namun kedepannya bisa saling melengkapi. Dengan begitu, akan diperoleh pengelolaan sampah lebih optimal.

Sebab, dengan pengelolaan sampah terintegrasi, menggabungkan pengelolaan sampah konvensional dengan metode 3R, maka paradigma masyarakat dalam mengelola sampah lebih maju dan berkembang.

“Dengan metode 3R, sampah-sampah bisa tereduksi, sehingga yang dibuang ke TPA itu hanya residunya, dan sekarang juga memang sudah seperti itu,” ujar Asno.

Kepala UPTD TPA Cibeureum, Diah, menambahkan, sejak adanya rencana perluasan lahan TPA tidak terlihat munculnya gejolak, ataupun protes dari warga sekitar. Para petugas di TPA pun tetap melaksanakan tugasnya seperti biasa.

Hal itu membuktikan, bahwa memang tidak ada penolakan dari masyarakat, terutama warga yang tinggal di sekitar lokasi TPA Cibeureum. “Sampai saat ini para petugas bekerja seperti biasa, tidak ada kendala dari warga. Terlebih, banyak yang memanfaatkan sampah sebagai mata pencaharian. Jadi memang tidak ada penolakan dari masyarakat terkait rencana peluasan lahan,” kata Diah. (Eva/Koran-HR)

- Advertisment -