Sabtu, Mei 21, 2022
BerandaBerita CiamisPerjalanan Prestasi Sepakbola di Tatar Galuh Ciamis

Perjalanan Prestasi Sepakbola di Tatar Galuh Ciamis

Pemain PSGC Ciamis, Erwin Ramdani saat berebut bola dengan pemain Persibangga Purbalingga pada laga pembuka kompetisi Liga Divisi Utama LSI, di Stadion Galuh Ciamis, Selasa (14/4/2014) sore. Foto: Eli Suherli/HR

Kolom ‘Sorot’ Koran Harapan Rakyat Edisi 14 Mei 2014

Oleh: Suherman, DS (Wartawan Senior di Ciamis)

Penyerang PSGC Ciamis, Emile Linkers, saat dihadang pemain belakang PSCS Cilacap, pada lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia Grup 3, di Stadion Galuh Ciamis, Sabtu (10/05/2014) sore. Foto: Eli Suherli/HR
Penyerang PSGC Ciamis, Emile Linkers, saat dihadang pemain belakang PSCS Cilacap, pada lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia Grup 3, di Stadion Galuh Ciamis, Sabtu (10/05/2014) sore. Foto: Eli Suherli/HR

“JIKA saja tim Persatuan Sepakbola Galuh (PSGC) Ciamis tidak masuk Divisi Utama PSSI mungkinan saya tidak mengenal Pontianak, Kalbar sekaligus melihat dari dekat tugu khatulistiwa. Kondisi stadion yang digunakan Persipon Pontianak meski milik provinsi keadaanya jauh di banding stadion Galuh Ciamis,” kenang Hidayat Taufik, Sekdis Dinas Pendidikan Ciamis. Ungkapan itu boleh jadi bukan saja ke luar dari para suporter lainnya yang pertama kali menginjakan kaki di kota garis kharulistiwa itu.

Namun juga dirasakan warga Tatar Galuh Ciamis. Betapa tidak!, selain memiliki stadion Galuh yang respresentatif juga tim PSGC diperkaya Emile Linkers asal Belanda dan Morris Power dari Siberia masuk Divisi Utama PSSI. Bangkitnya sepakbola di ranah Tatar Galuh Ciamis seperti sekarang adalah bagian dari proses waktu masa lalu. Mereka pelanjut para seniornya yang lahir dan besar di lapang Lokasana (kini taman lokasana).

Lalu siapakah Lokasana?. Dia adalah seorang kerabat dari Raden Adipati Aria Panji Jayanegara, Bupati Garatengah (1636-1642). Pada jamannya Dalem Lokasana berjasa menumbuh kembangkan olahraga kepada menak dan somahan. Maka ketika R Gahara Wijaya Surya, bupati Ciamis ke 11 (1958-1960) ketika membangun lapang sepakbola di Jalan KH Dahlan diberi nama Lokasana. Awalnya sekeliling lapang Lokasana tertutup rapat benteng pagar hidup rumpun pringgadani.

Lokasana selain digunakan sepakbola juga olahraga murid Sekolah Guru Bantu (SGB) kemudian berubah menjadi Sekolah Guru Atas (SGA) dan terakhir menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan pelajar lainnya. Tak hanya sebatas di situ saja karena digunakan juga bermain layang-layang dan aktifitas warga lainnya bahkan pentas hiburan. Klub sepakbola yang ada waktu itu adalah Garuda, PIOS dan klub lainnya bernaung di bawah perserikatan Persatuan Sepakbola Indonesia Tjiamis (Persit).

Dalam perjalanan Persit berubah menjadi Persatuan Sepakbola Indonesia Galuh (Persigal). Nama R Ojleng Iskandar (alm), wasit Surpi (alm/anggota polisi) sudah menyatu dengan para pencinta sepakbola waktu itu. R Ojleng Iskandar jika menghentikan bola, menendang atau mengecoh langkah lawan disertai gerakan yang lucu. Sedangkan wasit Surpi jika meniup peluit disertai peragaan gerakan kaki, tangan dan badan jika terjadi offside, freekick, handsball atau kesalahan lainya yang dilakukan salah seorang pemain ketika sedang bertanding.

Masa bupati Kolonel Infanteri (purn) RH Bambang Aruman asal Cijulang (9 November 1973-20 November 1978) Lokasana diperbaiki. Benteng hidup rumpun pringgadani diganti dengan benteng permanen ditambah membangun tribun sebelah barat. Era Persigal lahir pesepakbola berprestasi yang bergabung dengan klub Liga Sepakbola Utama (Galatama) diberbagai kota besar. Salah satunya Herry Kiswanto pernah menjadi kapten PSSI era tujuh puluhan. Melalui mereka sehingga tim Persipura, Niac Mitra Surabaya, Pardedetek Medan, Warna Agung dan klub Galatama lainnya pernah mitra tanding dengan Persigal.

Masa Bupati Kolonel Kavaleri (purn) H Taufik Hidayat (17 November 1988-7 November 1993) sepakbola semakin menggeliat. Membangun stadion Galuh dan membentuk tim Persatuan Sepakbola Galuh Ciamis (PSGC) masuk divisi I PSSI dan menggelar kejuaraan terbuka sepakbola diikuti tim Pekanbaru, Riau, Perseden, Bali, Jogjakarta dan tim lainnya. Hanya saja, paska jabatan Bupati H Taufk Hidayat berakhir, pamor PSGC perlahan lahan memudar karena dirudung seabreg persoalan.

PSGC di simpang jalan seperti anak ayam kehilangan induknya yang ujung ujungnya PSGC nyaris dicoret PSSI karena tidak mengikuti jadual kompetisi. Tahun 2006, Drs. H Asep Herdiat, MM (kini Sekda) mencoba membangkitkan lagi pamor PSGC ditangani pelatih Iwan Sunarya mantan pemain Persib dan Iwan Karo Karo (alm) asal Ciamis. Dua tahun kemudian PSGC ditangani Herri Rafni Kotari yang sebentar lagi menjadi anggota parlemen di Ciamis.

Masa Bupati Kolonel Infanteri (purn) H. Engkon Komara stadion Galuh semakin dipersolek. Tribun lama diganti, tempat duduk penonton semula dempling jadi permanen, pagar pembatas penonton semula GRC diganti dengan besi beton, kamar mandi atlet dilengkapi shower air panas, dipasang tiang lampu pada empat sudut menelan biaya Rp 3,6 miliar lebih. “Untuk menyalakan 100 lampu dengan genset berkekuatan 500.000 watt untuk satu jam diperlukan 100 liter solar,” ujar wakil manejer PSGC, Aep Saepulo, S IP. M Si.

Manejer PSGC. Drs H Asep Herdiat, MM berangan-angan menggelar kejuaraan terbuka diikuti tim tangguh dari beberapa kota besar. Muaranya selain untuk menambah pengalaman tanding, mendorong bangkitnya talenta sekaligus juga mempromosikan parwisata dan kuliner Ciamis, tutur Herdiat.

***

Jika mengurai waktu puluhan tahun kebelakang ternyata stadion sepakbola itu sudah ada sejak masa pemerintahan kolonial Belanda. Bahkan tahun 1947 ketika Belanda melakukan agresi militer pertama, H Busro warga Cihaurbeuti dan Abdulah murid SMP asal Ciamis berakhir hayatnya di stadion itu. Setelah badan mereka ditembus timah panas yang dimuntahkan dari moncong senapan serdadu Belanda. Peristiwa tragis menimpa H Busro berawal dari suatu hari ketika ia melihat pesawat terbang Belanda melintas di atas Dusun Antralina, Cihaurbeuti.

Ia hanya mengebutkan sorban miliknya pesawat terbang Belanda itu mendadak jatuh. Beberapa hari kemudian H. Busro dibawa serdadu Belanda ke Ciamis kemudian dieksekusi, sedangkan Abdulah sampai dieksekusi ceriteranya lain. Singkat kisah, Abdulah, R Okas Bratakusumah, Umar Umbaran dan puluhan temannya sesama murid SMP perjuangan tanggal 7 Juni 1946 mereka resmi menjadi anggota Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Setelah mereka dilantik Kapten Muchtar, Hidayat Marutusan dan Kuat dari Batalyon III/Resimen XI/TRIP Jabar di alun alun Ciamis. Siang hari tahun 1947 R. Okas Bratakusumah dan Umar Umbaran menghancurkan tank baja Belanda di daerah Sukajadi dengan bom batok yang sengaja dibenamkan.

Malam harinya ketika mereka berkumpul di Dusun Burungdiuk, Sindangrasa (kini jalan ke kolam renang Tirtawinaya) tiba-tiba disergap sejumlah serdadu Belanda. Tanpa ba-bi-bu lagi Musa dan Mastur ditembak saat itu juga. R.Okas Brata Kusumah dan Umar Umbaran dieksekusi di Dusun Jati, Sindangrasa (sebelah barat instalasi PDAM) sedangkan Abdulah dieksekusi di stadion. R Okas Bratakusumah, namanya diabadikan pada ruas jalan sebelah selatan stadion Galuh menuju arah Dusun Karang, Kelurahan Ciamis. ***

- Advertisment -