Rabu, Mei 18, 2022
BerandaBerita BanjarMenelusuri Kehidupan Waria di Kota Banjar

Menelusuri Kehidupan Waria di Kota Banjar

Taman tugu pahlawan di kawasan Jembatan Viaduct, Kota Banjar, menjadi salah satu lokasi tempat nongkrong kaum waria saat malam hari. Photo: Hermanto/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Waria adalah seseorang yang terlahir laki-laki, namun mempunyai jiwa dan perasaan layaknya perempuan. Keberadaannya sering dipandang sebelah mata. Mereka tak ambil pusing, yang penting tidak menyusahkan orang lain.

Di Kota Banjar sendiri sudah sejak lama kaum waria sering terlihat beraktifitas di malam hari. Mereka rata-rata bukan warga asli Banjar, sebagian ada yang dari Cilacap, Tasikmalaya, Ciamis, dan daerah lainnya.

Dalam kehidupannya sehari-hari, para waria ini pun sama dengan masyarakat pada umumnya. Mereka membutuhkan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, terutama keluarga.

Sabtu malam, (24/05/2014), sekitar jam 10.00 WIB, HR berhasil menemui beberapa orang kaum waria di kawasan tugu pahlawan Kota Banjar. Mereka tampak asyik bercengkrama dengan sesamanya.

Kepada HR, salah seorang dari mereka, sebut saja Mawar (28), menuturkan alasan dirinya mengapa menjadi seperti ini, karena dendam kepada kekasihnya yang telah menghianati. Dirinya kini merasa lebih nyaman bergabung dengan komunitas waria, sekaligus menjadi bagian dari mereka. “Saya menjadi seperti ini karena sakit hati oleh perempuan, jadi saya memilih dandan layaknya perempuan,” ujarnya.

Masih di tempat yang sama, sebut saja Bunga (29), waria lainnya, mengaku terjun menjadi waria karena sudah lama bergaul dengan para waria. Secara perlahan akhirnya dia pun memiliki sifat dan jiwa seperti perempuan.

“Kalau saya sih pertamanya hanya ikut-ikutan, tapi lama-kelamaan nyaman juga bersama mereka, jadinya saya kebawa juga berubah sifat dan jiwa saya seperti perempuan,” ungkapnya.

Usai berbincang dengan komunitas waria di tugu pahlawan, selanjutnya HR menyambangi kawasan Banjar Atas (BA). Di tempat tersebut tampak pula dua orang waria yang sedang mengamen. Alat musik yang digunakan mereka sangat sederhana, yakni berupa kecrek terbuat dari tutup botol bekas.

Sebut saja Melati (28) dan Anggrek (32). Mereka  menyanyi sambil berlenggak-lenggok dan menggoda para pengunjung BA dengan genit. Harapannya tiada lain ingin dikasih uang. “Kita mah begini aja ah, lebih enjoy,” ujar Melati, kepada HR.

Menurutnya, selain dibikin enjoy, kerja jadi pengamen adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. “Kami hanya butuh untuk makan mas, yang penting tidak merugikan orang lain,” imbuh Anggrek.

Berdasarkan pengakuan dari sejumlah kaum waria, kehidupan mereka ternyata sangat tertekan karena mereka harus menghadapi tanggapan negatif dari masyarakat. Jika masyarakat mau menerimanya dengan baik, itu tidak masalah. Namun pada kenyataannya lebih banyak masyarakat yang menolak keberadaan mereka.

Untuk menghadapi orang-orang yang tak menyukainya, biasanya para waria ini memilih jalan yang sekiranya tidak menimbulkan masalah, seperti mencari lingkungan yang bisa menerima keberadaannya.

Menanggapi keberadaan komunitas waria di kota yang baru berusia 11 tahun ini, Wakil Walikota Banjar, drg. H. Darmadji Prawirasetya, mengatakan, kehidupan waria yang kini semakin banyak bermunculan di Kota Banjar, itu adalah hak mereka.

Terutama bagi waria yang kehidupannya layak dan berprofesi sesuai dengan prosedur yang ada, seperti buka salon kecantikan, jadi instruktur senam, dan lain sebagainya. Semua itu merupakan hal-hal positif yang dilakukan para waria dan itu tidak menjadi masalah.

Berbeda dengan mereka (waria) yang sering nongkrong, atau bahkan menjadi pekerja seks. Sebab, dengan melakukan aktifitas seks menyimpang sangat berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit seksual.

“Walau bagaimanapun yang namanya waria adalah laki-laki. Pada hakekatnya mereka sama dengan masyarakat pada umumnya. Cuma yang membedakan hanya sifat dan jiwanya saja,” katanya.

Darmadji menambahkan, dalam hal ini, peran orang tua sangatlah penting, apalagi bagi mereka yang mempunyai anak laki-laki yang masih kecil. Bila anak laki-laki suka mainan perempuan, seperti bunga, boneka, dan mainan perempuan lainnya, maka orang tua harus memperhatikan. Karena hal itu dapat menyebabkan jiwa si anak merasa layaknya seorang perempuan, dan dapat terbawa hingga usianya dewasa. (Hermanto/Koran-HR)

- Advertisment -