Kamis, Mei 19, 2022
BerandaBerita CiamisBerita BanjarsariInilah Potret Kemiskinan di Daerah Pamarican Ciamis

Inilah Potret Kemiskinan di Daerah Pamarican Ciamis

Ma Yati dan Anaknya, Sapan, saat berada di depan gubuk reyot yang selama ini ditinggalinya. Photo : Andri S Hamara/ HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Malang menimpa keluarga Ma Yati, nenek tua berusia sekitar 65 tahun, warga RT 23 RW 6, Dusun Tamansari, Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat ini. Saat ini, Ma Yati tinggal di sebuah rumah yang masuk dalam kategori rumah tidak layak huni.

Kondisi rumah yang sudah rusak, bila hujan atap bocor, seisi rumah pun menjadi basah karenanya. Ma Yati tinggal di rumah reyot itu dengan anaknya, Sapan, yang sudah berusia 45 tahun. Kondisi anaknya pun sering sakit-sakitan.

Bila diperhatikan secara seksama, memang sangat miris yang dialami Ma Yati ini. di era pembangunan seperti sekarang, masih saja ada warga yang hidup dalam kemiskinan dan tinggal di sebuah rumah yang kurang layak.

Saat ditemui HR di rumahnya, Selasa (24/6/2014), Ma Yati menangis. Diapun menceritakan tentang kehidupan dirinya dengan sang anak laki-laki yang selama ini menemaninya tinggal digubuk berukuran 4×5 meter.

Ada sebuah harapan yang dinantikan oleh Ma Yati. Dia ingin mendapat perhatian dari pemerintah, berupa bantuan kebutuhan hidup sehari-hari (makan), dan tempat layak untuk ditinggali.

Ternyata selama ini, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Ma Yati menggantungkan belas kasihan atau pemberian dari para tetangganya yang baik hati. Tapi tidak jarang, Ma Yati dan sang anak berusaha mencari pekerjaan, meskipun serabutan.

Seorang warga, Anah (Bu RT), mengaku sangat prihatin melihat kondisi yang dialami keluarga Ma Yati tersebut. Dia juga membenarkan, selama ini keluarga Ma Yati hanya mengandalkan uluran tangan para tetangga.

Kalaupun dapat hasil dari bekerja serabutan, uang yang didapat hanya cukup untuk membeli sedikit beras dan garam. Tidak jarang, Ma Yati dan anaknya hanya makan nasi yang dicampur dengan garam.

Anah berharap keluarga Ma Yati mendapat bantuan. Karena ironis, selama ini keluarga Ma Yati belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Setidaknya, bantuan itu bisa meringankan beban hidup keluarga Ma Yati. (Andri/Koran-HR)

- Advertisment -