Jumat, Mei 27, 2022
BerandaBerita BanjarKasus HIV di Banjar Tinggi, KPAD Sosialisasi Melalui Mural

Kasus HIV di Banjar Tinggi, KPAD Sosialisasi Melalui Mural

Dua orang pemuda tengah membuat mural atau lukisan dinding bertemakan HIV-AIDS yang diprakarsai oleh KPAD Kota Banjar.

Foto: Eva Latifah/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Guna memberikan informasi kepada masyarakat umum tentang HIV-AIDS, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Banjar, membuat mural atau lukisan dinding di 10 titik yang tersebar di empat kecamatan.

Menurut Pengelola Program KPAD Kota Banjar, Rudi Ilham, bahwa pembuatan mural di 10 titik bertujuan agar masyarakat paham dan tahu kalau HIV itu bukan penyakit kutukan, atau penyakit turunan yang bisa dengan mudah ditularkan.

“Dengan adanya pembuatan mural yang bertemakan HIV, diharapkan masyarakat bisa lebih mengenal mengenai apa itu HIV-AIDS, dan bagaimana cara pencegahannya. Sengaja kita membuatnya di tempat-tempat terbuka supaya bisa dilihat oleh masyarakat umum,” ujarnya, Selasa (01/07/2014).

Mural yang dibuat di 10 titik itu diantaranya berada di wilayah Lingkungan Jadimulya, Jl. Tentara Pelajar, Jl. Raya Batulawang, Kecamatan Banjar, Desa Balokang, Situbatu, Kelurahan Banjar, Kelurahan Karangpanimbal, Desa Langensari dan Kelurahan Muktisari.

Rudi menyebutkan, di Kota Banjar, kasus HIV-AIDS sudah sangat memprihatinkan, sehingga sosialisasi ke masyarakat harus lebih digencarkan lagi, salah satunya melalui pembuatan mural.

“Kasusnya memang sudah cukup tinggi. Setiap bulannya selalu ada saja temuan kasus. Hingga saat ini jumlahnya sudah mencapai 71 kasus, itu yang sudah masuk data,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan LSM Viaduct, Dadang Sutrisno, menambahkan, pihaknya sebagai Implementing Unit (IU) dalam issue penanggulangan HIV di Kota Banjar, langsung melakukan intervensi pada populasi kunci, yaitu waria, Wanita Pekerja Seks (WPS), Laki-laki Seks Laki-laki (LSL) dan Laki-laki Beresiko Tinggi (LBT).

“Kami juga memiliki dua orang petugas Community Organizer yang lebih terkonsentrasi pada pemberdayaan kader di masyarakat, dalam upaya penginformasian pemahaman HIV-AIDS untuk masyarakat,” ujarnya.

Pembentukan Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat (PIKM) di setiap desa, kata Dadang, merupakan salah satu upaya membuat wadah dalam pergerakan kader di masyarakat. Dorongan VCT dan IMS juga masih terus dilakukan, baik untuk komunitas beresiko tinggi maupun kelompok beresiko rendah atau masyarakat.

“Sedangkan untuk penguatan pendampingan terhadap odha dan pengguna narkoba suntik, itu lebih difokuskan oleh LSM Mutiara sebagai implementing unit-nya,” pungkasnya. (Eva Latifah/Koran-HR)

- Advertisment -