Jumat, Mei 20, 2022
BerandaBerita BanjarMimpi Memetik Buah Pepaya di Agrowisata Langensari Banjar

Mimpi Memetik Buah Pepaya di Agrowisata Langensari Banjar

Kebun pepaya di Desa Waringinsari Kecamatan Langensari Kota Banjar. Foto: Nanang Supendi/HR

Nanang Supendi/Wartawan HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Petani di wilayah Desa Waringinsari Kecamatan Langensari Kota Banjar, sungguh bergairah berkebun pada suatu hamparan di atas lahan trisna. Sebagian milik masyarakat, sebagian lagi milik Pemerintah Desa Waringinsari yang digarap petani dengan sistem sewa berada di pinggir sungai Citanduy/Kalimati seluas kurang lebih 60 hektar.

Ditanami berbagai hasil pertanian seperti sayur-sayuran, buah-buahan dan berbagai palawija. Kini ribuan pohon pepaya, kerap disebut buah calina, tertanam rapi menghijau, lengkap dengan buahnya yang menggelantung memukau siap dipetik.

Apakah para petani tersebut bisa dikatakan sedang mempersiapkan agrowisata pepaya? Ataukah hanya sebuah mimpi?. Karena sejumlah petani di wilayah itu saat ini kebanyakan sudah beralih menanam pepaya jenis california. Terlebih pemandangan alam di wilayah ini indah, sambil menikmati sungai Citanduy bila dikemas menjadi wana wisata.

Sehingga cocok untuk dikembangkan wisata pertanian, layaknya di Malang yang terkenal dengan wisata apel. Berharap mimpi Kota Banjar bisa terkenal dengan wisata pepaya. Tidak hanya Langensari dijadikan sebagai sentra budidaya pepaya california saja, sesuai rencana strategis Kota Banjar, tapi kenapa tidak dimasukan pengembangan agrowisata.

Selain mengurus kebun, ada petani sambil mengembala hewan ternak kambing di area lahan trisna sekitar lapang sepakbola, dan menyabit rumput untuk dibawa pulang sebagai pangan ternaknya.

Seperti yang dilakukan Samin, Minggu (22/06/2014), sedang beristirahat selepas menyabit rumput berteduh di pos yang tersedia di perkebunan itu, mengatakan, dirinya kalau sedang mengurus kebun dan memetik buah, selepasnya langsung sambil menyabit rumput, kadang juga membawa hewan ternak kambingnya ke area lapang sepakbola tak jauh dari lahan pertaniannya.

Di lapang itupun oleh anak-anak setiap sore digunakan untuk bermain bola. Sebelum main bola, mereka terlebih dulu menyiram tanaman di kebun miliknya masing-masing.

Kemudian, HR berkesempatan mengunjungi kebun buah pepaya milik Tarsid warga Dusun Purwodadi RT. 2/3 Desa Waringinsari, menjadi pengalaman menarik. Betapa tidak, selain bisa menikmati pemandangan hamparan perkebunan asri ini, kita juga bisa memilih buah yang akan dibeli dengan cara memetik langsung dari pohonnya. Malah saking berlimpahnya buah, HR dipersilahkan membawa saja hasil memetiknya, tidak usah bayar.

Ada sejam lebih HR di lokasi ini, sambil menikmati kopi panas dan buah pepaya yang baru dipanen yang disuguhi Tarsid di kebun miliknya. Menurutnya pepaya dari petani lahan trisna, selain rasanya manis juga lebih kenyal dan tahan lama. Hal ini berbeda dengan pepaya hasil produksi petani yang ada di pesisir wilayah Jawa Tengah.

“Pepaya disini rasanya lebih manis, gurih dan tahan lama. Ini berbeda dengan pepaya yang ada Jawa Tengah. Sehingga ini pas untuk masyarakat umum atau wisatawan yang ingin merasakan memetik sendiri dan membawa pepaya ke rumah,” kata Tarsid.

Alasan petani di wilayah ini, beralih ke tanaman buah pepaya, karena hasil yang menguntungkan. Untuk lahan satu hektar milik Tarsid dapat menghasilkan 2-3 ton, sekali panen dalam seminggu atau kadang satu minggu bisa dua kali panen.

“Keuntungan pengembangan pepaya california ini, salah satunya cepat berbuah, buah relatif sedang ukurannya, proses pematangan juga cepat, dan jumlah buah dari satu pohon bisa mencapai puluhan,” ujar Tarsid.

Berdasar pantauan HR, pohon pepaya california yang ditanam di area lahan trisna ini begitu subur, sehingga pohon setinggi satu meter hingga dua meter itu berbuah lebat, bahkan dengan mudah menemukannya yang matang dengan ciri berwarna kekuning kuningan.

Menurut Tarsid, dirinya tak heran sekarang banyak pembeli yang datang langsung ke tempat ini, baik pengepul maupun membeli sekedar menikmatinya bersama dengan keluarga saat berada di lokasi kebun maupun membawanya pulang ke rumah. Yang dibawa ke rumah biasanya untuk keperluan hajatan suguhan prasmanan.

Dari penuturan Tarsid, pembeli atau yang datang ke tempatnya bukan saja dari Waringinsari, bahkan mereka pengepul luar daerah minta jatah hasil panen buahnya. Diungkapkannya, selama ini hasil produksi pepaya di wilayahnya, selain untuk memenuhi kebutuhan pasar Tasikmalaya juga dikirim ke sejumlah daerah mulai dari Bandung, Jakarta hingga luar jawa.

Lebih lanjut dia mengungkapkan kembali, luas 60 ha perkebunan rakyat di lokasi ini, jika dapat difasilitasi sarana dan prasana jalan berupa pengaspalan serta jalan yang kecilnya dibikin rabat beton. Atau pula sedikit dipoles dan dapat ditetapkan sebagai lokasi wisata tentunya menjadi sesuatu yang menarik nantinya.

“Daripada disudut perkebunan ini, kadang digunakan warga untuk arena judi dan disepanjang pinggiran kebun tepatnya dijalan tanggul oleh anak muda dipakai tempat mojok terlebih malam minggu dan cuaca cerah, perlu diberantas dan perhatian serius. Kita bangun saja di sini Villa atau warung-warung,” kelakarnya.

Sehingga, menurutnya, banyak kegiatan dan dampak dari pengembangan wilayah ini, bahkan bisa menjadi perhatian publik dan wisatawan untuk selain menikmati alam dan keanekaragaman tanaman sayur-sayuran dan buah pepaya, tentunya juga dapat betah orang untuk berkunjung dan tinggal di daerah ini.

Diperkebunan rakyat Waringinsari ini, tanaman hasil pertanian tersedia lainnya berupa sayur-sayuran organik dibawa ke pasar Langensari, Banjar dan Jawa Tengah. Ada tomat, kacang panjang, terong, cabe dan hampir semua sayuran dapat dikembangkan di daerah ini.

Pemkot Banjar kalau ingin menuju pencapaian visi agropolitan, coba bersama dengan dinas terkait lainnya untuk menseting daerah ini sebagai salah satu lokasi agrowisata untuk menarik para wisatawan yang ada di Banjar agar juga menikmati dan membelanjakan uang mereka di lokasi ini.

Untuk itu harus pula melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk para investor yang mau menanamkan usaha agrowisata yang maju dan modern. Toh di beberapa kota/kabupaten lain agrowisata juga memiliki peminat kunjungan wisata yang tidak kalah menarik banyaknya kunjungan.

Begitulah, lahan pertanian tanah trisna bertransformasi sebagai tempat berkunjung keluarga, dan anak bermain sepakbola serta oleh petaninya sendiri selain berkebun dijadikan tempat mengembala hewan ternak kambing. Alangkah indah dan menariknya lokasi ini jika dapat dikembangkan sebagai lokasi agrowisata nantinya. ***

- Advertisment -