Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaBerita CiamisBanyak Faktor Sebabkan RT Petani di Ciamis Menurun

Banyak Faktor Sebabkan RT Petani di Ciamis Menurun

Foto: Ilustrasi

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Galuh (Unigal), Sudrajat, Ir.,MP., menyebutkan, banyak faktor yang menjadi penyebab menurunnya jumlah Rumah Tangga (RT) Usaha Pertanian di Kabupaten Ciamis.

Ketika ditemui HR, Selasa (26/8/2014), Sudrajat mengungkapkan faktor-faktor tersebut. Pertama, saat ini sektor pertanian sudah dianggap tidak ekonomis dan kurang produktif. Sebab, pendapatan rumah tangga petani, terutama petani kecil lebih banyak disumbang dari kegiatan di luar sektor pertanian.

Selanjutnya, banyak orang terutama anak muda di pedesaan menganggap profesi petani tidak menjanjikan masa depan. Mereka lebih memilih merantau atau mengadu nasib di kota daripada bertahan menggarap lahan sempit di desa.

Di samping itu, kata Sudrajat, semakin menyusutnya lahan pertanian akibat banyak beralih fungsi, (Dijual, disewakan atau akibat dari sistem/ pola warisan). Padahal lahan merupakan faktor produksi utama untuk produksi pangan. Dan hal itu berdampak terhadap menipisnya akses petani terhadap lahan.

Penyebab lainnya, lanjut Sudrajat yaitu kebijakan neoliberalisme (Mengikuti IMF dan WTO). Kebijakan ini memaksa pemerintah memangkas subsidi untuk pertanian, menghapuskan proteksi dan menerapkan liberalisasi impor pangan.

“Juga, keterbatasan modal yang dimiliki petani. Disusul kemudian kurangnya pembinaan atau pelayanan kepada petani sebagai akibat rasio penyuluh pertanian dengan jumlah petani tidak seimbang (rendah),” tandasnya.

Sudrajat menambahkan, rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan penyerapan dan pengembangan teknologi pertanian berjalan lambat. Kesemua faktor itu menyebabkan peralihan profesi para petani ke sektor-sektor lain (jasa, perdagangan atau menjadi buruh pabrik), sehingga jumlah RT Petani mengalami penurunan.

Disinggung soal upaya atau solusi untuk mengatasi hal itu, Sudrajat menjabarkannya. Antaralain, memberikan dukungan permodalan kepada para petani melalui kredit usaha tani. Merangsang minat pendidikan ke sekolah menengah bidang pertanian (SMK Pertanian) bagi siswa dari pedesaan.

Kemudian, mencegah terjadinya alih fungsi lahan pertanian terutama sentra produksi pangan. Caranya melalui berbagai kebijakan. Meningkatkan jumlah penyuluh pertanian sehingga rasionya menjadi seimbang, atau mengusahakan minimal satu desa satu penyuluh.

“Terakhir, menumbuhkembangkan agroindustri di pedesaan,” pungkanya. (deni/Koran-HR)