Senin, Agustus 15, 2022
BerandaBerita BanjarGaya Baru, Bisnis “Esek-esek” Oknum Pelajar Banjar

Gaya Baru, Bisnis “Esek-esek” Oknum Pelajar Banjar

Foto : Ilustrasi

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Potret pergaulan para pelajar di Kota Banjar semakin hari semakin memprihatinkan, dimana banyak diantara mereka yang terjebak ke dalam pergaulan bebas. Semua itu akibat dari derasnya arus globalisasi.

Mereka kerap berdalih bahwa hal seperti itu sudah lumrah dalam pergaulan kalangan pelajar. Maka tidak heran, sekarang ini banyak oknum pelajar yang nekad terjun ke dalam dunia hitam.

Praktek prostitusi memang sudah merambah ke kalangan pelajar. Bahkan parahnya lagi, para Wanita Pekerja Seks (WPS) atau “buncir” (sebutan untuk WPS pelajar) itu malah sudah punya jaringan “marketing” pribadi. Tidak seperti WPS yang sering dijumpai di jalan, karena “buncir” selalu menggunakan jasa “mami” atau “papi” ketika ada tamu yang ingin mengajaknya kencan.

Selama tiga hari, HR terus mencari info tentang maraknya praktek prostitusi di kalangan pelajar yang ada di Kota Banjar. Tidak mudah memang untuk menemukan mereka, karena jaringan mereka sangat tertutup dan tidak sembarangan orang bisa mengetahuinya.

Hingga akhirnya pada Sabtu malam (02/08/2014), HR berhasil menemui Mawar (17), (bukan nama sebenarnya) di Taman Kota Lapang Bhakti Banjar, sekitar jam 20.35 WIB. HR bisa bertemu dengan Mawar karena diajak oleh Melati (19), teman dekat Mawar.

Mawar yang masih berstatus pelajar di salah satu SLTA di Kota Banjar ini, terus mengumbar senyum. Ia berbincang lama dengan HR dan menceritakan alasan sampai dirinya terjun di dunia esek-esek.

Awalnya kesuciannya direnggut sang pacar disaat masih duduk di kelas 1 SLTA. Beranjak dari alasan itu, ia pun melampiaskan dendamnya dengan terjun langsung ke dunia hitam. “Ini semua gara-gara aku terlalu percaya kepada pacarku, dan akhirnya aku seperti ini,” ungkapnya.

Menggeluti profesinya sebagai “buncir,” kata Mawar, baik pihak keluarga atau teman-temannya pun tidak ada yang tahu, kecuali teman-teman kepercayaannya yang sangat dekat dengannya.

Satu kali kencan Mawar mengaku mematok tarif Rp.300 ribu-Rp.500 ribu. Ia juga mengaku tidak sembarangan dalam memilih pelanggan, makanya menggunakan jasa “marketing” supaya pekerjaannya itu tidak tercium oleh lingkungan sekitar.

Hal serupa diungkapkan Jingga (18), (bukan nama sebenarnya). Ia berhasil ditemui HR di tempat kostnya, Senin malam (04/08/2014), sekitar jam 20.30 WIB.  Alasannya pun sama seperti yang dialami Mawar. Terjun ke dunia hitam lantaran “dirusak” kesuciannya oleh sang pacar.

“Dulu saat melakukannya dengan pacar dibarengi rasa cinta. Tapi pacar saya malah mengkhianati. Yah beginilah jadinya, udah kepalang ancur,” ungkapnya.

Pelanggan Jingga biasanya orang-orang berkantong tebal, seperti pengusaha dan pejabat. “Pernah suatu hari saya berkencan dengan seorang bos ternama di Banjar. Kencannya juga bukan di hotel atau di kostan, tapi di kantor tempat bekerjanya si bos,” kata Jingga.

Sementara itu, salah seorang “marketing” Gobang (29), (bukan nama sebenarnya), mengaku bahwa dirinya hanya sebagai perantara para “buncir” untuk mencari lelaki “hidung belang.”

“Para “buncir” itu tidak sembarangan dalam berkencan dan selalu pilih-pilih pelanggan. Hal itu dilakukan tergantung “mami” atau “papi” yang menjadi “marketing”nya,” ujar Gobang.

Agar gerak-geriknya tidak ketahuan, mereka selalu menolak jika ada pelanggan yang ngajak jalan-jalan, atau pergi ke tempat umum. Selain itu, “buncir” cuma bisa sort time dan selalu menolak long time. Gobang juga mengatakan, untuk menemukan jasa pramunikmat remaja seperti kedua oknum pelajar tersebut memang tidak mudah, dan sangat terselubung.

Dengan maraknya para oknum pelajar di Kota Banjar yang menjadi WPS, tentunya hal ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di Kota Banjar. Terbukti sebelum memasuki bulan Ramadhan, pihak Polsek Banjar saat menggelar razia berhasil menjaring empat orang ABG perempuan yang tengah berada di kamar hotel kelas melati bersama pasangan bukan mukhrimnya. Parahnya, dari empat perempuan yang terjaring itu, dua diantaranya masih berstatus pelajar SLTA di Kota Banjar.

Menanggapi permasalahan tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Banjar, Engkos Koswara, S.Pd., mengaku sangat prihatin dengan ulah para oknum pelajar itu.

“Jika ada oknum pelajar seperti itu merupakan hal yang sangat salah, dan perbuatannya menjurus ke kriminal, karena anak tersebut masih di bawah umur. Mereka melakukan itu pasti ada germonya. Kalau memang ada, laporkan saja pada polisi, karena anak tersebut masih di bawah umur,” katanya, saat dihubungi HR melalui telpon selularnya, Selasa (05/08/2014).

Menurut Engkos, peran orang tua, guru dan lingkungan sekitar sangat penting dalam menanggulangi permasalahan tersebut. Seperti halnya guru dalam mendidik siswa-siswinya harus memperhatikan keinginan peserta didik. Misalnya dengan mengadakan ekstrakurikuler supaya anak-anak mendapat pengalaman baru dan selalu berada dalam kegiatan positif.

Terkait dengan persoalan ini, yang paling utama adalah adanya komunikasi dengan orang tua, sehingga si anak dapat melakukan pemahaman secara bertahap, dan  anak-anak pun akan mengetahui bagaimana bertanggung jawab kepada dirinya sendiri.

Rasa prihatin juga diungkapkan Kapolresta Banjar, AKBP. Asep Saepudin, SIK. Menurutnya, sebagai polisi ia menghimbau kepada semua pihak terkait, baik dari keluarga, guru di sekolah, pihak pemerintah maupun aparat kepolisian agar mengawasi pergaulan anak-anak remaja, dan lebih memperhatikan anak-anaknya, terutama yang masih di bawah umur.

“Setiap hari Senin, saya selaku Kapolres kerap mengunjungi sekolah-sekolah dan menjadi pembina upacara di sana. Tujuannya untuk memberikan arahan kepada para siswa-siswi supaya tidak terjerumus ke hal-hal negatif,” katanya.

Asep pun mengharapkan agar lampu penerangan dipasang di tempat-tempat sepi dan remang yang biasa dipakai nongkrong para remaja. Terutama di taman-taman bantaran Sungai Citanduy. Selain itu, pihaknya juga akan selalu rutin malakukan patroli dan razia gabungan dengan Satpol PP Kota Banjar ke sejumlah lokasi yang diduga kerap dijadikan tempat mesum.

“Terlepas dari hal itu semua, sekarang bukan saatnya menanyakan siapa yang salah. Namun kini saatnya semua pihak bahu-membahu dan memperhatikan perkembangan para remaja, baik secara fisik ataupun psikologi,” kata Asep. (Hermanto/Koran-HR)