Selasa, Agustus 16, 2022
BerandaBerita Pangandaran “Penurunan PAD Pangandaran, Akibat Kebocoran di Pintu Tol Wisata”

“Penurunan PAD Pangandaran, Akibat Kebocoran di Pintu Tol Wisata”

Suasana di pintu tol masuk kawasan wisata pantai Pangandaran, saat musim libur lebaran tahun ini. Foto: Madlani/HR

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Ketua LSM Lembaga Keadilan Masyarakat Ciamis Selatan (LKMCS), Ade Vampir, menuding penurunan PAD dari pintu tol wisata pada Libur Lebaran tahun ini bukan karena disebabkan dari menurunnya jumlah wisatawan, tetapi akibat terjadinya kebocoran.

Menurut Ade, kebocoran tersebut disebabkan dari kurang profesionalnya pengelolaan manajemen yang diterapkan oleh Dinas Parawisata, Deperindagkop dan UMKM. “ Kebocoran yang terjadi di lapangan sangat luar biasa. Berdasarkan informasi yang kami terima, kebocoran PAD di pintu tol sampai di angka puluhan juta,” katanya, kepada HR, Selasa (05/08/2014). [Baca: PAD dari Tol Wisata Pangandaran Turun Rp. 74, 1 Juta]

Menurut Ade, dari pantauan di lapangan, jumlah pengunjung justru mengalami peningkatan apabila dibanding dengan sebelumnya. “Kami dari LSM merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Memang tidak ada pembuktian siapa saja oknum yang melakukan kebocoran, tetapi seharusnya petugas dari Dinas mencatat lebih rinci,” katanya.

“Seperti contoh kecil saja, banyak orang yang makan di warung kemudian dibayar oleh petugas. Coba berapa uang yang dikeluarkan untuk membayar warung,” tambahnya.

Menurut Ade, pihaknya membantu pengamanan di pintu tol wisata dengan menerjunkan 4 orang anggotanya. Di sejumlah pintu tol, sedikitnya 15 Ormas dan LSM turut membantu pengamanan.

“Jadi, sangat disayangkan apabila adanya kebocoran ini dituduhkan akibat keterlibatan Ormas. Saya saja sebagai ketua, hanya mendapat rokok satu bungkus dan makan satu kali. Dan saya jamin anggota pun pasti akan sama dengan ketuanya,” tegasnya.

Ade menegaskan, dengan kondisi tersebut, seharusnya ada pembinaan kepada para pegawai Dinas Parawisata, khususnya kepada petugas yang berjaga di loket pintu masuk. Pembinaan itu dilakukan agar mereka paham manajemen yang tertib dan profesional, sehingga diharapkan ke depan dapat menekan angka kebocoran.

“Hal itu perlu dilakukan, kalau tidak mau terus-terusan PAD dari sektor wisata mengalami kebocoran. Kalau dibiarkan, kita khawatir akan terus berlangsung dan semakin parah,“ ungkapnya. (Madlani/Koran-HR)