Sabtu, Agustus 13, 2022
BerandaBerita CiamisSaat Peringati Sumpah Pemuda, FAM Unigal Ciamis Kritisi Kebijakan Kampus

Saat Peringati Sumpah Pemuda, FAM Unigal Ciamis Kritisi Kebijakan Kampus

Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Front Aksi Mahasiswa (FAM) Universitas Galuh (Unigal) menggelar aksi di halaman Gedung Rektorat, Selasa (28/10/2014). Photo ; Deni Supendi/ HR

Aksi FAM Unigal(1)
Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Front Aksi Mahasiswa (FAM) Universitas Galuh (Unigal) menggelar aksi di halaman Gedung Rektorat, Selasa (28/10/2014). Photo ; Deni Supendi/ HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Front Aksi Mahasiswa (FAM) Universitas Galuh (Unigal), menggelar aksi demonstrasi di halaman Gedung Rektorat Unigal. Aksi demonstrasi yang dilaksanakan dalam rangka peringatan sumpah pemuda itupun dijadikan sebagai ajang mahasiswa mengkritisi sejumlah kebijakan kampus. 

Dalam pernyataan resminya, Korlap Aksi, M. Ikhsan, kepada para awak media, Selasa (28/10/2014), menyatakan bahwa sejarah perjalanan revolusi bangsa yang tidak terlupakan yaitu momentum penyatuan rasa nasionalisme dan patriotisme para pemuda dengan mengenyampingkan egosentris kedaerahan.

Disana, kata Ikhsan, konsepsi-konsepsi untuk meraih kemerdekaan menjadi sebuah komitmen untuk melawan segala bentuk kolonialisme dan tirani.

“Keberanian pemuda saat itu patut dihargai dan dipertahankan sampai saat ini baik itu kebebasan berserikat, kebebasan berpendampat dan kebebasan menyatampaikan aspirasi,” tandas Ikhsan.

Sayangnya, kata Ikhsan, di kampus Unigal yang dicintainya, buku kemahasiswaan yang diterbitkan pihak kampus, telah mencederai nilai-nilai demokrasi dan kebebasan.

Menurut Ikhsan, dalam buku kemahasiswaan itu, pembina Organisasi Mahasiswa (Ormawa) terkesan otoriter dan feodal. Pasalnya, Pembina Ormawa membuat aturan-aturan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi. Gerakan mahasiswa dibatasi oleh syarat-syarat yang tidak esensial.

“Contohnya seperti pembatasan terhadap mahasiswa yang ingin masuk ke Ormawa internal. Salah satu syaratnya adalah tidak boleh aktif di organisasi lain. Dan yang kedua, Pembina Ormawa menyatakan mempunyai kewenangan penuh terhadap perubahan anggaran dasar dan anggaran rumah dan anggaran rumah tangga yang dibuat dalam musyawarah mahasiswa,” katanya.

Ikhsan menambahkan, pihaknya juga menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pihak kampus. Diantaranya, pertama, Pencabutan aturan yang membatasi gerak mahasiswa dalam berkreasi dan berjuang menegakan nilai-nilai keadilan.

Kedua, FAM menuntut Pembina Ormawa tidak menafsirkan secara berlebihan tentang kewenangannya dalam melakukan pembinaan, sehingga membatasi setiap gerakan mahasiswa. (Deni/R4/HR-Online)