Jumat, Agustus 19, 2022
BerandaBerita BanjarTugu Perbatasan Situbatu Banjar Jadi Tempat Mojok ABG

Tugu Perbatasan Situbatu Banjar Jadi Tempat Mojok ABG

Taman tugu batas kota di wilayah Kel. Situbatu, Kec/Kota Banjar, bila malam minggu kerap dijadikan tempat mojok sejumlah pasangan anak baru gede (ABG). Photo: Dokumentasi HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Hampir setiap malam minggu, atau malam libur lainnya, kawasan tugu perbatasan yang ada di wilayah Kel. Situbatu, Kec/Kota Banjar, menjadi tempat mojok sejumlah pasangan anak baru gede (ABG).

Tempat biasa digunakan untuk berpacaran yaitu bangunan warung di lokasi tersebut. Sebab, bila malam hari, beberapa bangunan warung selalu kosong ditinggal pemiliknya. Seperti diungkapkan Kusnadi, salah seorang warga, kepada HR, Kamis (02/10/2014).

“Perlu diketahui, tempat yang biasa dipakai mojok anak remaja itu bukan hanya terdapat di wilayah perkotaan saja, tetapi di daerah pasisian pun ada. Coba saja kalau malam minggu jalan-jalan ke kawasan tugu perbatasan Banjar-Cimaragas, di sana kerap terlihat sejumlah pasangan anak ABG, terutama di dalam bangunan warung kosong,” tuturnya.

Menurut Kusnadi (43), saat ini fenomena seperti itu di kalangan remaja sudah dianggap hal yang lumrah. Terbukti, ketika dirinya sengaja menyambangi kawasan tugu tersebut saat malam minggu, sejumlah pasangan ABG tidak merasa takut atau malu melihat kedatangannya.

Kondisi itu menandakan bahwa telah terjadi pergeseran moral di kalangan generasi muda, khususnya di Kota Banjar. Untuk itu, kata Kusnadi, dalam melakukan penertiban atau razia terhadap lokasi-lokasi yang disinyalir dijadikan tempat berbuat negatif, harus disisir sampai ke daerah pelosok.

“Letak tugu perbatasan sudah jelas berada di daerah perbatasan. Otomatis bukan hanya remaja asal Banjar saja yang nongkrong atau mojok di situ, tapi ada juga dari luar Banjar. Untuk itu, saya sebagai warga berpendapat, ada baiknya razia juga dilakukan ke kawasan tersebut. Cukup malam minggu saja lah patrolinya,” kata Kusnadi.

Pendapat serupa diungkapkan Nurhayati (36), warga lainnya. Menurut dia, kurangnya lampu penerangan di sekitar lokasi membuat pasangan ABG itu terlihat nyaman, sehingga mereka lebih memilih mojok di dalam bangunan saung warung dari pada di taman.

“Ya saya setuju kalau kawasan tugu perbatasan dirazia juga. Siapa tahu nanti kalau sudah ada yang kena razia, yang lainnya jadi takut dan tidak akan mojok lagi di tempat tersebut. Kalau hanya sebatas nongkrong kumpul-kumpul saja sih tidak apa-apa, malah jadi haneuteun,” kata Nurhayati. (Eva/Koran-HR)