Agar Kesenian Tidak Punah, Pelaku Seni di Ciamis Diminta Lakukan Kreativitas

Sanggar Seni Sampay yang merupakan kumpulan Mahasiswa asal Kabupaten Ciamis, saat mementaskan kesenian Sunda, di Asrama Galuh Jalan Veteran Warungboto I  Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Dokumenasi HR

Mahasiswa-Ciamis-Pentaskan-Kesenian-Sunda-di-Yogyakarta

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Pelaku seni di Indonesia harus melakukan kreativitas dengan melakukan modifikasi terhadap alat- alat kesenian tradisional untuk disesuikan dengan perkembangan zaman yang sudah modern. Apabila tidak dilakukan, bukan tidak mungkin alat kesenian tradisional akan tergerus dan punah seiring perkembangan zaman.

Dosen Karawitan STSI Bandung, Lili Suparli, M.Sen, mengatakan hal itu, saat memberikan materi pada acara workshop yang bertajuk, “Kearifan Lokal Dalam Prespektif Global” yang diikuti para praktisi seni se-Kabupaten, di GOR Ayoe Ciamis, Jumat (28/11/2014).

Lili mengungkapkan, langkah itu dilakukan, agar kesenian di Indonesia masih bisa bertahan dan terus maju di era globalisasi yang dimana saat ini tengah gencar-gencarnya masuk budaya barat.

“Artinya, sebuah keharusan kreativitas seni hari ini sudah disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sehingga, kesenian kita tidak dipandang ketinggalan zaman dan membosankan,” katanya.

Kreativitas yang dilakukan, kata Lili, yakni dengan melakukan pembaharuan yang masih dalam batasan koridor. Jangan punya anggapan, lanjut dia, kesenian tidak bisa diubah karena mempertahankan keaslian.

“Jika dikembangkan, kesenian kita akan lebih menarik. Misalkan, menjadi seni kontemporer yang dipadukan dengan seni-seni modern yang saat ini tengah berkembang,” ungkapnya.

Menurut Lili, produk kontemporer jika diterima masyarakat, tidak menutup kemungkinan di tahun-tahun yang akan datang akan menjadi kesenian yang menarik. Namun, jika tidak diperbaharui dengan dalih pelestarian, dipastikan akan membosankan atau bisa jadi ditinggalkan.

Lili menegaskan, pelaku seni harus bisa menghilangkan pemikiran bahwa kesenian sebagai benda mati yang statis, tatapi kesenian itu harus menjadi dinamis yang berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. “Pemikiran kuno yang akan membuat kesenian kita justru akan musnah tergerus zaman,” ungkapnya.

Ketua Penyelenggara Workshop yang juga Kasi Pembinaan Kesenian dan Perfilman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ciamis, H. Dedi Koesmana, S.Pd, mengatakan, workshop ini digelar, selain untuk meningkatkan silaturahmi antara pelaku dan prakatisi seni, juga untuk menyamakan persepsi dalam pengembangan seni budaya daerah. (Bgj/R2/HR-Online)

KOMENTAR ANDA

Komentar