Sabtu, Agustus 13, 2022
BerandaBerita TerbaruAgun: Apabila Golkar Tidak Melakukan Pembaruan, Keterpurukan Siap Menanti

Agun: Apabila Golkar Tidak Melakukan Pembaruan, Keterpurukan Siap Menanti

Fungsionaris Partai Golkar, Drs. Agun Gunandjar Sudarsa, Bc.,Ip.,M.Si

Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI, Drs. Agun Gunandjar Sudarsa, Bc.Ip, M.Si
Fungsionaris Partai Golkar, Drs. Agun Gunandjar Sudarsa, Bc.Ip, M.Si

Jakarta, (harapanrakyat.com),-

Fungsionaris Partai Golongan Karya (Golkar), Drs. Agun Gunandjar Sudarsa, Bc.,Ip.,M.Si., menyatakan Partai Golkar merupakan aset politik yang sangat penting yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sebagai partai politik yang memiliki wawasan kebangsaan paripurna, keberadaan Partai Golkar sangat strategis dan signifikan serta akan selalu relevan dalam memperkuat keindonesiaan.

“Kami sadar bahwa Partai Golkar akan kehilangan relevansi kehadirannya manakala berhenti menjadi kekuatan pembaruan. Dan untuk menjadi kekuatan pembangunan dan pembaruan sebagaimana tersebut dalam salah satu butir Ikrar Panca Bhakti, maka Partai Golkar tidak boleh berhenti memperbarui dirinya,” ucap mantan Ketua Komisi II DPR RI ini, di Jakarta, Jum’at (31/10/2014).

Agun memiliki pandangan, Partai Golkar sekarang ini mendapatkan momentum yang sangat baik untuk mewujudkan dirinya kembali menjadi kekuatan pembaruan, dimana Partai Golkar akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas).

Lebih lanjut Agun menuturkan, Munas adalah forum permusyawaratan tertinggi yang sangat strategis untuk dijadikan momentum pembaruan.

Pasalnya, kata Agun, Munas berwenang memantapkan paradigma pembaruan dan memilih kepemimpinan baru yang relevan dengan dinamika perkembangan jaman yang senantiasa berubah.

Agun menandaskan, masa menjelang Munas menjadi momentum politik yang sangat tepat bagi segenap komponen dan elemen Partai Golkar untuk menyepakati langkah-langkah memperbarui diri secara bersama-sama dan inklusif (terbuka).

Lebih jauh Agun juga mengungkapkan, pemegang estafet kepemimpinan yang secara silih berganti menghela Partai Golkar, di era reformasi telah bekerja keras secara optimal. Apalagi kepemimpinan Partai Golkar di awal-awal reformasi itu menghela partai dalam situasi yang sangat sulit dan berat.

Namun demikian, sejak reformasi itu pula Partai Golkar belum berhasil memenangkan hati rakyat secara maksimal. “Kami menyadari sepenuhnya bahwa kerja-kerja politik tidak selalu mesti berbuah kemenangan dan menghasilkan jabatan politik. Bagi Partai Golkar, perjuangan politik mestinya harus dipandang sebagai perjuangan kebajikan,” ucapnya.

Partai Golkar juga, kata Agun, harus keluar dari trauma kekalahan dan menangkap momentum di depan mata yang tersedia saat ini, untuk memperbarui dirinya dengan melakukan regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan secara demokratis dan fair.

Agun memprediksi, menyongsong Pemilu 2019, populasi dan karakteristik pemilih sudah jauh berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Apabila Partai Golkar tidak melakukan pembaruan yang signifikan pada Munas mendatang, maka keterpurukan sudah siap menanti. Dengan demikian, regenerasi kepemimpinan adalah solusi untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. (Deni/R4/HR-Online)