Rabu, Agustus 10, 2022
BerandaBerita BanjarBBM Naik, Rakyat Kecil di Banjar Menjerit

BBM Naik, Rakyat Kecil di Banjar Menjerit

Satu hari menjelang diberlakukannya harga baru BBM berubsidi, warga mengantri di salah satu SPBU di Kota Banjar, Jawa Barat. Kenaikkan harga bahan bakan tersebut semakin menyulitkan masyarakat kecil. Photo: Hermanto/HR.

Salah satu pengendara sepeda motor tengah mengisi full tangki bensin, setelah adanya pengumuman resmi dari Pemerintah mengenai kenaikan harga BBM, di SPBU yang ada di pusat Kota Banjar, Senin malam, (17/11/2014). Foto: Hermanto/HR.
Salah satu pengendara sepeda motor tengah mengisi full tangki bensin, setelah adanya pengumuman resmi dari Pemerintah mengenai kenaikan harga BBM, di SPBU yang ada di pusat Kota Banjar, Senin malam, (17/11/2014). Foto: Hermanto/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kebijakan pemerintah pusat yang selalu menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membuat masyarakat kecil menjerit. Pasalnya, dampak dari kenaikkan harga BBM mengakibatkan seluruh kebutuhan bahan pokok otomatis ikut naik.

Betapa tidak, saat keadaan ekonomi yang serba sulit bagi wong cilik, sekarang malah ditambah dengan naiknya kembali harga BBM bersubsidi. Harga premium yang sebelumnya Rp.6500 per liter kini naik menjadi Rp.8.500 per liter, dan harga solar sebelumnya Rp.5.500 per liter, kini menjadi Rp.7.500 per liter.

Dengan kenaikkan harga BBM tersebut, tentunya membuat masyarakat menjadi semakin terhimpit. Seperti yang diungkapkan Marsimin (53), salah seorang pengrajin bata merah, warga Lingkungan Parungsari, RT.08/03, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar.

Menurutnya, dinaikkannya harga BBM bersubsidi membuat dirinya kebingungan dalam penjualan batu bata hasil produksinya. Lantaran, dalam proses penggilingan tanah sebagai bahan baku untuk mencetak bata merah menggunakan mesin diesel berbahan bakar solar.

“Dengan kenaikkan harga BBM ini, jujur saja saya sangat tidak setuju, karena hanya mempersulit masyarakat kecil saja,” tuturnya, kepada HR, Selasa (18/11/2014).

Marsimin menyebutkan, pada saat menggunakan mesin diesel, dalam sehari manghabiskan solar sampai 7 liter. Namun, semenjak BBM naik, proses penggilingan bahan baku dilakukannya dengan cara manual.

Pendapat serupa juga diungkapkan Iswanto (32), warga Balokang, Kecamatan Banjar, yang menggeluti usaha produksi makanan ringan. Dirinya mengaku sangat terbebani dengan adanya kenaikkan harga BBM bersubsidi.

“Dalam pengiriman barang ke luar kota, otomatis ongkos kirim pun jadi membengkak akibat harga BBM yang semakin melambung,” keluh Iswanto.

Menanggapi permasalahan tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Banjar dari PDIP, Nana Suryana, mengaku, secara pribadi dirinya juga tidak setuju dengan kenaikkan harga BBM tersebut. Namun, secara organisasi ia harus mendukung kebijakan dari pemerintahan Jokowi-JK.

“Jujur, secara pribadi saya tidak setuju atas kenaikkan harga BBM ini. Tapi itu sudah menjadi suatu kebijakan pemerintah,” kata Nana, ketika dihubungi HR melalui ponselnya.

Dirinya berharap, untuk kedepannya pemerintahan Jokowi dapat mencari solusi yang terbaik bagi kepentingan rakyat. (Hermanto/Koran-HR)