Sabtu, Agustus 20, 2022
BerandaBerita CiamisH. Toni Sebut Dirinya Korban Program Pembangunan Ciamis Era 1990

H. Toni Sebut Dirinya Korban Program Pembangunan Ciamis Era 1990

Deretan Ruko depan terminal dan pasar Ciamis yang masalahnya sudah berlarut-larut dan kini mencuat kembali. Foto: Dokumentasi HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

H. Toni Sultoni, pemilik Toserba Pajajaran, pernah menjadi korban dari program pembangunan Ciamis yang dicanangkan pada era tahun 1988-1993, atau pada saat Kabupaten Ciamis dipimpin oleh Bupati Ciamis ke 17, Kol. Inf. Bupati H. Taufik Hidayat.

Ketika ditemui HR, di kediamannya, Senin (20/10/2014), H. Toni Sultoni, tidak membantah soal mega proyek yang diagendakan Pemerintah Kabupaten Ciamis kala itu. Diantaranya, pemindahan pusat perekonomian masyarakat (pasar, alun-alun, terminal dan lainnya), pembangunan sejumlah kantor dan instansi pemerintahan, pembangunan infrastruktur jalan dan pembebasan lahan.

“Saya adalah salah satu korban dari program pembangunan Ciamis waktu itu,” ucapnya.

Pada era 90an, sebelum pasar dipindahkan, atau masih di kawasan alun-alun Ciamis (sekarang), kata Toni, dirinya sudah menjalani usaha di bidang jual beli pakaian. Kemudian waktu penggusuran pasar dilakukan, Toni mengaku baru saja tiga tahun menempati salah satu bangunan toko.

“Saya masih ingat, saat itu saya ada di dalam toko. Ketika saya membuka toko, saya melihat sebuah buldozer sedang meratakan tanah pasar,” ucapnya.

Ketika penggusuran itu terjadi, Toni mengaku sedih. Padahal, dia baru menempati bangunan toko selama tiga tahun, dari total sewa selama 25 tahun. Kesedihan dia dan sebagian warga pasar menjadi-jadi ketika mengetahui tidak ada penggantian (ganti rugi).

Toni juga mengakui, pada saat penggusuran pasar dilakukan, banyak benturan yang terjadi antara Pemerintah Kabupaten Ciamis dan masyarakat. Kala itu, Pemkab Ciamis memang berupaya membuat perubahan besar terhadap wajah kota.

Menurut Toni, banyak kalangan warga pasar dan masyarakat Ciamis yang terusik dan emosional menghadapi kondisi saat itu. Tapi masyarakat tidak berdaya dan tidak bisa berbuat banyak karena kejadian itu ada di masa kepemimpinan orde baru. (deni/Koran-HR)