Sabtu, Agustus 13, 2022
BerandaBerita PangandaranLestarikan Seni dan Budaya, Kampung Badud Berdiri di Cijulang Pangandaran

Lestarikan Seni dan Budaya, Kampung Badud Berdiri di Cijulang Pangandaran

Kesenian Badud asal Desa Margacinta saat dipertunjukkan dalam sebuah pementasan. Photo : Asep Kartiwa/ HR

Lestarikan Seni dan Budaya, Kampung Badud Berdiri di Cijulang Pangandaran

Cijulang, (harapanrakyat.com),-

Pemerintah Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat menciptakan ‘Kampung Badud’ atau Saung Pagelaran Senin Badud yang berlokasi di Dusun Margajaya, Desa Margacinta.

Kepala Desa Margacinta, H. Edi Supriyadi, beberapa waktu lalu, mengatakan, upaya tersebut sengaja dilakukannya untuk melestarikan Kesenian Tradisional Badud khas asal Desa Margacinta. Selain itu, pihaknya pun berobsesi untuk melakukan revitalisasi dan menjadikannya bernilai jual bagi wisatawan atau turis.

Edi menuturkan, upaya pelestarian Kesenian Badud tersebut melibatkan pengelola objek wisata dan kalangan budayawan lokal. Dia menjelaskan, kesenian Badud tersebut hanya dimiliki Desa Margacinta. Seni Badud adalah seni tradisional khas Desa Margacinta yang menceritakan tentang bagaimana pendahulu desa tersebut mengolah tanah pertanian, terutama padi huma.

Lebih lanjut, Edi mengungkapkan, pada awalnya seni badud tersebut muncul sebagai alat komunikasi antar saung huma, untuk mengetahui apakah ada orang atau tidak di saung tersebut orang bersahutan dengan kata ‘dog-dog ….eu’. Kemudian, ketika musim panen tiba, karena harus naik turun bukit sambil mengusung padi hasil panen, dan untuk mengusir rasa lelah, orang saling bersahutan dengan kata ‘dog-dog …..eu’.

Daam pentas, kesenian badud memiliki nilai mistis. Kesenian ini identik dengan cara-cara petani mengusir hama tanaman seperti kera, babi hutan dan lain-lain. Cara mengusir hama perusak tanaman padi tersebut disebut ritual ‘Kidung Pasisinglar Nyi Pohaci’. Maka pada acara pagelaran ada orang dengan menggunakan topeng dan pakaian menyerupai hewan monyet, babi hutan dan harimau.

Seiring berkembangnya jaman, kesenian badud akhirnya dapat dipakai untuk memeriahkan acara sunatan dengan istilah ‘turun mandi’. Pengantin sunat diusung dengan tandu dan mandi di sumber air alami untuk mendapat berkah. Diiringi musik badud yang khas dari tetabuhan enam dog-dog besar hingga yang kecil, 8 angkulung, beserta alat-alat musik yang terbuat dari logam, seperti kempul, kecrek dan genta (go’ong).

Ketua Pengelola Pariwisata Desa Margacinta, Asep Kartiwa, menjelaskan, pihaknya ingin menjual seni tersebut kepada para wisatawan atau turis asing, dan mengemasnya dengan paket wisata lain seperti paket body rafting.

“Kami berharap pemerintah daerah Kabupaten Pangandaran mau peduli terhadap Seni Badud tersebut, karena seni Badud ini diyakini sebagai salah satu kekayaan seni khas Kabupaten Pangandaran. Kami juga berharap Seni tersebut ditetapkan dengan UU yang berlaku untuk dilindungi sebagai Kekayaan Seni khas Pangandaran,” katanya. (deni/Koran-HR)