Sabtu, Agustus 13, 2022
BerandaBerita BanjarMerasa Dipermainkan, Warga Tolak Jual Tanah Bagi Perluasan TPAS Cibeurem Banjar

Merasa Dipermainkan, Warga Tolak Jual Tanah Bagi Perluasan TPAS Cibeurem Banjar

Pertemuan pemilik tanah perluasan TPAS Cibeurem, dengan Walikota Banjar, di balai dusun Babakan, Desa Cibeurem, Senin, (22/12/2014). Foto: Nanang S/HR.

Pertemuan pemilik tanah perluasan TPAS Cibeurem, dengan Walikota Banjar, di balai dusun Babakan, Desa Cibeurem, Senin, (22/12/2014). Foto: Nanang S/HR.
Pertemuan pemilik tanah perluasan TPAS Cibeurem, dengan Walikota Banjar, di balai dusun Babakan, Desa Cibeurem, Senin, (22/12/2014). Foto: Nanang S/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Perluasan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cibeurem akhirnya menemukan jalan buntu. Warga pemilik tanah yang akan dibebaskan untuk perluasan lahan pembuangan sampah itu, mengaku kesal dan terkesan dipermainkan Pemkot Banjar. Akhirnya mereka sepakat menolak menjual tanah mereka.

Kekesalan semakin menjadi, ketika material sampah dari area sanitry landfield pada Sabtu, (20/12/2014), kembali longsor untuk kali ketiga. Sementara material longsoran yang pernah terjadi pada bulan Februari dan Oktober silam pun hingga kini belum seratus persen dibersihkan.

Menurut keterangan sejumlah pemilik lahan, mereka membiarkan tak memprotes atas ketidaktuntasan pembersihan lahan mereka dari material longsoran sampah, karena diiming-imingi pihak Pemkot Banjar tanah mereka akan dibeli untuk perluasan.

Informasi yang berhasil dihimpun HR menyebutkan, sebenarnya pihak Pemkot Banjar telah menganggarkan sebesar Rp. 20 Miliar pada tahun 2014. Anggaran tersebut ditujukan bagi perluasan membeli tanah warga seluas kurang lebih 5 hektar.

Untuk memperjelas kondisi tersebut, akhirnya pihak Pemkot Banjar menggelar pertemuan dengan warga pemilik tanah di balai dusun Babakan, Desa Cibeurem, Senin, (22/12/2014).

Pada pertemuan itu langsung dihadiri Walikota Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih S.IP., M.Si., Kepala DCKTLH, Drs. Yoyo Suharyono, dan Kepala Desa Cibeurem, Yayan Surkilan.

Pertemuan tersebut digelar atas tuntutan warga pemilik tanah yang meminta kejelasan pembelian tanah mereka, sekaligus membicarakan penawaran harga tanah.

Menurut Iwa, salah satu pemilik tanah, mengatakan, dirinya merasa pihak Pemkot Banjar bertele-tele dan merasa dipermainkan terkait proses transaksi pembelian tanah.

“Waktu pertemuan di aula Pemkot, harga sawah ditawarkan sebesar Rp. 1,5 juta. Kok kini jadi harga yang ditawarkan jadi 1,3 juta,” keluhnya.

Dulu lanjut Iwa, pihak Pemkot berulang kali membujuk dirinya agar mau menjual tanah sawahnya. Karena adanya perubahan harga saat ini, Iwa menegaskan tidak akan menjual tanahnya.

Ketidak setujuan Iwa dengan harga penawaran Pemkot yang baru, menurutnya, karena pada awalnya dia tak berniat menjual sawahnya. Setelah sebelumnya ada kesepakatan harga, Iwa mengaku harga 1,5 juta itu bisa untuk membeli sawah lagi didaerah lain.

“Kami sepakat akan bertahan dengan harga penawaran terdahulu, kalau tidak ya kami tidak akan menjual. Jika pihak Pemkot tidak setuju, ya sudah sampai disini saja, selesai. Apa yang kami minta itu wajar,” ketusnya.

Popon, warga pemilik tanah lainnya, mengatakan, tidak akan menyetujui harga taksiran yang dikeluarkan pihak Sucofindo. “Kami sebenarnya ingin membantu Pemkot, tapi kalau harga segitu nanti dulu. Bila Pemkot tidak setuju dengan penawaran harga kami, sudah saja bubar,” ucapnya dengan nada tinggi kepada HR usai pertemuan.

Tuntutan lain warga selain harga tanah, mereka juga meminta pihak Pemkot Banjar untuk segera membersihkan material longsor, yang kini masih menutup akses jalan Cibeurem dan Jajawar.

“Saking kesalnya, kami tadi pagi sempat menutup akses jalan ke TPAS. Namun ditahan Pak Kades, agar mengurungkan penutupan,” ucap Popon.

Yuli warga lainnya, menyoroti apakah tidak sebaiknya tempat pembuangan sampah tidak berada diwilayahnya, dan meminta pihak Pemkot untuk mencari ditempat lain, alias memindahkan TPAS. “Disini jadi banyak lalat dan bau menyengat. Saya khawatir kesehatan warga nanti bermasalah,” ujarnya.

Lain halnya dengan Ruswana, yang mempertanyakan proses pemilahan dalam pembuatan kompos, kondisi mesin sudah rusak.”Proses itu belum maksimal, pemeliharaannya saja tidak diperhatikan. Kami minta secepatnya diperbaiki,” katanya.

Mendapat cercaan dari warga pemilik tanah dan warga sekitar, Walikota Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih S.IP., M.Si., menjawab satu persatu pertanyaan kekesalan warga tersebut.

Menurutnya, pihak Pemkot Banjar menggandeng pihak Sucofindo dalam menentukan harga taksiran tanah dikarenakan hal itu diharuskan oleh peraturan yang ada.

Hasil kajian Sucofindo dengan mematok harga tanah darat sebesar 600 ribu per-bata, dan tanah pesawahan seharga 1,3 juta itu telah sesuai dengan nilai jual objek pajak.

“Kami tidak seenaknya, dan mempermainkan harga tanah, pegangan harga itu bisa dipertanggungjawabkan. Jadi, Pemkot Banjar tidak boleh memberikan harga diluar patokan itu. Kalau sampai melebihi, akan menjadi temuan pemeriksaan keuangan,” jelas Ade Uu.

Walikota menghimbau dan memohon kepada warga untuk berpikir bijak, dengan menjual tanah untuk perluasan TPAS, berarti telah membantu kemajuan Kota Banjar. Dan mempertimbangkan, kebermanfaatan fungsi TPAS untuk masa mendatang.

“Begini saja, kami akan menggelar pertemuan lanjutan dengan menghadirkan pihak Sucofindo, biar mereka lebih gambling menjelaskannya,” ucapnya.

Hal senada dikatakan, Kepala DCKTLH, Drs. Yoyo Suharyono. Menurutnya, pihaknya sebagai intansi terkait dan Pemerintah Kota Banjar, tidak bermaksud untuk mempermainkan harga. Akan tetapi, pihak Pemerintah harus sesuai prosedur dalam pembelian tanah, karena memakai uang Negara.

“Kehati-hatian itulah, makanya kami menggandeng pihak Sucofindo sebagai tim penaksir tanah. Karena mereka memang bidangnya, dan memenuhi legalitas,” jelasnya.

Pihaknya kata Yoyo, saat ini memang sangat membutuhkan lahan untuk perluasan TPAS, semua itu demi kepentingan seluruh masyarakat Kota Banjar.

“Tapi bila keinginan pemilik lahan seperti ini, kami juga tidak bisa memaksa. Untuk itu, dalam waktu dekat kami akan menggelar pertemuan lagi dengan warga pemilik tanah, serta menghadirkan pihak Sucofindo,” tukasnya.

Terkait bersikukuhnya keinginan warganya yang tidak akan menjual tanahnya bila tidak sesuai dengan harga yang dinginkan, Kepalas Desa Cibeurem, Yayan Sukirlan, saat dikonfrimasi HR, menyatakan, tidak bisa berbuat banyak, dan tidak mau menjawab solusi terbaik untuk kedepannya.

“Yang jelas kita tunggu saja pertemuan selanjutnya, dan kita akan mencoba silahturahmi secara pribadi kepada pemilik tanah,” tandasnya. (Nanang S/Koran-HR)