Sabtu, Agustus 13, 2022
BerandaBerita BanjarPuluhan Hektare Sawah di Perbatasan Banjar-Ciamis Terendam

Puluhan Hektare Sawah di Perbatasan Banjar-Ciamis Terendam

Karno (72), salah seorang warga Lingkungan Siluman Baru, Kel/Kec. Purwaharja, tengah menunjukkan sebagian areal pesawahan di kawasan Rawa Onom yang tergenang banjir. Photo: Eva Latifah/HR

lahan sawah rawa onom banjir

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Akibat terjadinya pendangkalan saluran irigasi dan Sungai Citapen, lebih dari 20 hektare lahan pesawahan di kawasan Rawa Onom, Pulo Majeti, Kec. Purwaharja, Kota Banjar, terendam banjir. Para petani di wilayah tersebut terpaksa menghentikan pengolahan sawahnya.

Menurut Karno (72), salah seorang warga setempat, bahwa areal pesawahan di kawasan Rawa Onom yang terendam banjir itu meliputi lahan sawah di Lingkungan Siluman Baru, Kel. Purwaharja, pesawahan di wilayah Desa Mekarharja dan Desa Raharja, Kec. Purwaharja, Kota Banjar. Serta lahan pesawahan di wilayah Desa Cisaga dan Bangunharja, Kabupaten Ciamis.

“Keseluruhan lahan sawah yang terndam air saat ini luasnya mencapai lebih dari 20 hektare, terdiri dari bagian kiri dan kanan Pulo Majeti, yaitu antara tanggul Sungai Citapen dan tanggul Cibungur,” tutur Karno, ketika dijumpai HR, Selasa (16/12/2014).

Dia menyebutkan, untuk kejadian banjir sekarang ini memang lebih parah dari sebelumnya. Padahal, saat ini belum masuk puncak musim hujan, karena kalau puncak hujan bangunan tanggul Citapen pun akan terendam.

Akibat luasnya lahan pesawahan yang terendam air, sehingga hanya satu dua kotak lahan sawah saja yang kini bisa diolah oleh beberapa petani. Sedangkan, kebanyakan para petani lainnya hanya bisa menatap lahan sawahnya.

“Untuk itu, kami meminta kepada pemerintah supaya mencarikan solusi, bagaimana caranya agar lahan pesawahan di sini tidak selalu terendam banjir. Intinya, kami ingin mengembalikan seperti di era tahun 1975, dimana banjir hanya terjadi dalam kurun waktu 10 tahun sekali. Itu pun tergantung situasi dan kondisi,” harap Karno.

Dia juga mengatakan, sebetulnya sudah beberapa kali mengajukan kepada pihak pemerintah, meminta agar saluran irigasi dan Sungai Citapen dikeruk. Namun, hingga sekarang permintaan tersebut belum ada realisasinya.

Menurut Karno, para petani di kawasan pesawahan Rawa Onom belum merasakan manfaat dari keberadaan saluran irigasi secara maksimal. Pasalnya, bila sedang musim kemarau, pasokan air yang masuk ke saluran irigasi masih minim.

Sebaliknya, ketika masuk musim penghujan seperti sekarang ini, air yang ada pada saluran irigasi meluap hingga membanjiri areal pesawahan. Kondisi seperti itu diperparah lagi oleh luapan air dari Sungai Citapen.

“Kita juga sebenarnya sudah meminta supaya pengerukan saluran irigasi dilakukan dengan menggunakan alat berat berupa beko, bukan menggunakan pacul. Sehingga air irigasi bisa lancar mengalirnya. Kalau sekarang airnya mandeg,” katanya.

Karno menambahkan, untuk penanganan aliran Sungai Citapen, para petani menginginkan supaya alur sungai tersebut diluruskan agar air dapat mengalir dengan lancar. Dengan begitu, maka para petani di kawasan Rawa Onom dapat mengolah lahan sawahnya secara normal.

Sementara itu, ketika HR akan mengkonfirmasikan permasalahan tersebut kepada Bidang PSDA Dinas PU Kota Banjar, sebagai instansi terkait, namun para pejabat yang berkompeten sedang tidak ada di tempat. (Eva/Koran-HR)