Kamis, Juni 30, 2022
BerandaBerita Banjar“Burtok,” Cara Baru Layanan Prostitusi di Kota Banjar

“Burtok,” Cara Baru Layanan Prostitusi di Kota Banjar

Photo ilustrasi.

psk burtok

 

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Selama masih ada yang membutuhkan, tampaknya dunia prostitusi akan terus menjamur, khususnya bagi para lelaki hidung belang. Mereka biasanya memburu dunia birahi tersebut ke lokalisasi atau tempat karaoke.

Namun, layaknya di kota-kota besar yang dunia malamnya tidak pernah tidur, dan selalu gemerlap, Kota Banjar pun tidak ketinggalan. Berbagai macam bisnis prostitusi mulai dari esek-esek gaya pelajar, prostitusi online, ayam kampus, serta bisnis prostitusi lainnya komplit.

Bahkan, kini mulai muncul layanan prostitusi baru yang disebut dengan “Burtok” atau layanan prostitusi bubaran toko. Gaya tersebut mulai muncul, dan tumbuh subur sejak Banjar mengalami kemajuan dalam perekonomiannya, dimana bangunan-bangunan pertokoan semakin bertambah banyak.

Seperti yang terlihat pada Sabtu malam (21/02/2015), sekitar jam 21.30 WIB, saat HR mencoba menelusuri sejumlah oknum pegawai toko yang nyambi menjadi pramunikmat. Hasil dari penelusuran, ternyata layanan prostitusi burtok berada di kawasan Jl. Letjen. Soewarto.

Padatnya pertokoan di jalan tersebut membuat bisnis prostitusi burtok tumbuh subur. Hal ini dapat terlihat setelah bubaran toko sekitar jam 21.00 WIB. Mereka biasanya dijemput oleh gadun (laki-laki berduit usianya di atas 37 tahunan-red) menggunakan mobil atau sepeda motor, yang sebelumnya sudah janjian melalui sms atau telepon.

Sebagian besar para pegawai toko di Kota Banjar merupakan orang perantauan. Diantara mereka ada sejumlah oknum pegawai yang membutuhkan penghasilan tambahan, karena gaji dari pekerjaannya sebagai pelayan di toko tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya. Sehingga, usai bekerja jadi pramuniaga berubah menjadi pramunikmat.

Adanya bisnis tersebut diperkuat oleh  penuturan sejumlah pelaku layanan prostitusi burtok. Sebut saja Neng (24), bukan nama sebenarnya. Dia mengaku, setelah bubaran toko tidak langsung pulang ke kostan, namun biasanya langsung dijemput oleh seorang pria dengan menggunakan mobil.

Dirinya pergi bersama laki-laki tersebut ke sebuah hotel, atau tempat kostan milik temannya, yang biasa dijadikan tempat untuk melayani tamunya.

“Ya buat tambah-tambah penghasilan, lagian kerja di toko gajinya kecil. Saya juga menjalani pekerjaan sampingan itu karena terdesak kebutuhan ekonomi,” ujar cewek asli Rancah ini, saat ditemui HR di salah satu tempat makan lesehan yang ada di Jl. Sudiro.

Lain halnya dengan Puri (bukan nama sebenarnya). Dirinya mengaku kerap “main” di rumah salah satu temannya yang biasa dipakai “tempat” bersama laki-laki langganannnya. “Dari pada di hotel atau kostan, takut kena razia karena saya penah kena razia pekat, makanya kapok jika main di hotel atau kostan.,” tuturnya. (Hermanto/Koran-HR)

Ikuti berita menarik lainnya di Harapan Rakyat Online melalui akun twitter: Koran Harapan Rakyat dan fans page facebook: Harapan Rakyat Online

- Advertisment -