Minggu, Mei 22, 2022
BerandaBerita BanjarIni Cerita Lika-liku Kehidupan SPG (Sales Promotion Girl) di Kota Banjar

Ini Cerita Lika-liku Kehidupan SPG (Sales Promotion Girl) di Kota Banjar

Ilustrasi SPG. Foto: Ist/Net

Ini Cerita Lika-liku Kehidupan SPG (Sales Promotion Girl) di Kota Banjar

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Untuk mendongkrak penjualan prodak dari sebuah perusahaan, banyak pihak perusahaan yang menggunakan jasa gadis duta promosi atau yang biasa disebut sebagai Sales Promotion Girl (SPG).

Wajah cantik, tubuh tinggi semampai yang dibalut dengan pakaian seksi, serta dibumbui dengan sikapnya yang sedikit genit, sudah menjadi ciri khas dari gadis-gadis yang bekerja menjadi SPG.

Penampilan tersebut tentunya sering mengundang ulah “nakal” para lelaki atau calon konsumennya yang mereka hadapi. Biasanya mereka menawarkan prodak berupa rokok, minuman suplemen, sepeda motor, cofee dan jenis-jenis prodak lainnya.

Bekerja sebagai Sales Promotion Girl memang harus tahan mental dan sabar. Lantaran, dalam pekerjaan itu selalu mendapat pandangan miring dari setiap orang. Tidak hanya itu, tudingan kepada SPG bahwa mereka bisa “dipakai” pun sering terdengar luas di masyarakat. Pasalnya, banyak diantara mereka yang mau dijadikan wanita simpanan oleh pejabat atau para pengusaha.

Pada hari Sabtu (28/02/2015) lalu, Koran HR berhasil menemui seorang SPG di acara Citanduy Festival. Sebut saja Miss (20), bukan nama sebenarnya. Ketika itu ia tengah berusaha menawarkan sebuah produk kepada calon pembeli.

Walaupun beberapa kali mendapat penolakan, namun ia tetap tersenyum dan terus merayu ke setiap calon pembelinya, dengan harapan prodak yang ditawarkannya laku terjual. “Ini baru laku empat, jadi belum memenuhi target,” ujar Miss, sambil tersenyum menawarkan prodak coffee.

Miss pun tidak menampik jika ada calon pembeli ataupun pembeli yang ingin mengajaknya untuk makan, shoping, atau bahkan check in. Hal itu karena sebelumnya antara Miss dan sang pembeli sudah saling tukar nomor handphone dan PIN BlackBerry. “Saya tak munafik. Itu untuk tambah-tambah penghasilan,” ujar Miss.

Pendapat serupa diungkapkan Yayu (22), bukan nama sebenarnya. Dirinya mengaku lebih memilih menawarkan prodak yang dijualnya kepada para pejabat di instansi pemerintahan. Sebab menurut dia, jika ditawarkan kepada para pejabat, maka prodak yang dijualnya selalu cepat laku.

“Walaupun harus dengan sedikit rayuan, yang penting prodak bisa laku,” kata Yayu, yang mengaku pernah menjadi “simpanan” seorang pejabat.

Namun, tidak semua wanita yang bekerja sebagai SPG mudah untuk diajak “main,” seab ada juga diantara mereka yang benar-benar bekerja keras mencari uang, peras keringat dan banting tulang demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Conotohnya Neng (19), salah seorang SPG perusahaan rokok. Menurut dia, kalau secara langsung belum pernah menemukan laki-laki yang “nakal,” namun mereka biasanya hanya meminta nomor HP atau sebatas tukeran PIN BlackBerry.

“Saya sendiri belum pernah menemukan laki-laki yang ngajak macam-macam. Kalau pun ada calon pembeli yang rada “nakal,” saya menolaknya secara halus dan tetap tersenyum. Saya akan tetap profesional dalam pekerjaan,” tutur Neng, ketika dijumpai Koran HR di kawasan Rest Area Banjar Atas (BA), Parungsari, Minggu (01/03/2015) lalu. (Hermanto/Koran-HR)

- Advertisment -