Minggu, Juni 26, 2022
BerandaBerita PangandaranMiris! Pergi ke Sekolah, Siswa SD di Pangandaran Ini Berjalan 5 KM...

Miris! Pergi ke Sekolah, Siswa SD di Pangandaran Ini Berjalan 5 KM Lewati Hutan

Ilustrasi siswa SD. Foto: Ist/Net

Miris! Pergi ke Sekolah, Siswa SD di Pangandaran Ini Berjalan 5 KM Lewati Hutan

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Puluhan siswa terpaksa harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer untuk pergi ke SDN 3 Banjarharja, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Selain itu, karena hanya terdapat jalan setapak, puluhan siswa ini juga harus melewati hutan belantara.  

Kepala SDN 3 Banjarharja, Ani Kartini, ketika ditemui HR, Senin (16/03/2015), mengatakan, sekitar 50 persen siswanya berasal dari Dusun Karanggondang dan Karanghonje. Menurut dia, sehari-hari para siswanya harus menempuh jalan setapak dengan jarak tempuh sekitar 5 kilometer.

“Selain itu, para siswa juga harus melewati hutan belantara. Pakaian mereka juga sering kotor ketika tiba di sekolah, karena jalan yang mereka lalui becek,” katanya.

Ani mengaku, pihaknya sudah beberapakali mengusulkan agar akses jalan menuju kawasan pendidikan, SDN 3 Banjarharja, khususnya dari wilayah Dusun Karanggondang dan Karanghonje dibuka oleh pemerintah.

Senada dengan itu, Kasie Sarana dan Prasarana UPTD Pendidikan Kalipucang, Yayan, Senin (16/03/2015), membenarkan bahwa hampir lima puluh persen siswa-siswi SDN 3 Banjarharja harus menempuh jalan setapak dan hutan belantara ketika ingin pergi ke sekolah.

“Untuk ukuran anak-anak, ini sangat tidak layak, karena mereka melewati jalur berbahaya. Apalagi, di hutan belantara yang sering mereka lalui itu terdapat masih banyak binatang buas,” tegas Yayan.

Tokoh masyarakat Karanggondang, Dimah, saat dimintai keterangan oleh HR, Senin (17/03/2015), juga membenarkan akses jalan setapak menuju SDN 3 Banjarharja tidak layak dilalui bocah kelas satu sampai kelas tiga. Alasannya karena jalan itu berada di kawasan hutan belantara dan rawan binatang buas.

“Tidak sedikit anak-anak usia sekolah dari Karanggondang terpaksa putus atau berhenti sekolah karena masalah akses menuju pendidikan cukup jauh dan berbahaya,” katanya.

Dimah menganjurkan agar Pemerintah Kabupaten Pangandaran membuka akses jalan bagi warga Karanggondang dan Karanghonje untuk menuju kawasan pendidikan. Kalupun tidak, pemerintah membuka kelas jauh di wilayah itu, agar anak-anak usia sekolah bisa mengenyam pendidikan tanpa harus menggandaikan keselamatan. (Ntang/Koran-HR)

- Advertisment -