Minggu, Juni 26, 2022
BerandaBerita PangandaranRatusan Warga Tolak Praktek Japrem di Pintu Tolgate Pangandaran

Ratusan Warga Tolak Praktek Japrem di Pintu Tolgate Pangandaran

Ratusan warga Desa Pangandaran dan Desa Pananjung saat menggelar dialog dengan perwakilan Pemkab dan DPRD Pangandaran, di Aula Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Selasa (31/03/2015). Foto: Madlani/HR

Ratusan Warga Tolak Praktek Japrem di Pintu Tolgate Pangandaran

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Ratusan warga Desa Pangandaran dan Desa Pananjung menggelar aksi penolakan terhadap praktek Japrem (Jatah Preman) dan menghilangkan dilibatkannya pengurus PO Bus Pariwisata dalam pengelolaan pembayaran tiket di pintu masuk (Tolgate) kawasan wisata pantai Pangandaran.

Aksi yang berlangsung tertib ini, digelar di Aula Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Selasa (31/03/2015). Usai menggelar aksi, warga kemudian menggelar dialog dengan perwakilan Pemkab dan DPRD Pangandaran yang dihadiri Asda II Drs. Undang Sohbarudin, Anggota DPRD Pangandaran, Asep Noordin, Kepala Dinas Pariwisata Perindagkop, UMKM Pangandaran, Drs Muhlis dan Muspika Kecamatan Pangandaran.

Koordinator Aksi Gerakan Masyarakat “Sahate Nyalametkeun” Pangandaran, Ujang Hada, mengatakan, aksi ini digelar bertujuan untuk menyelamatkan aset dan PAD (Pendapatan Asli Daerah) Pangandaran yang selama ini kerap mengalami kebocoran. “Sudah menjadi rahasia umum, di pintu masuk tolgate obyek wisata Pangandaran kerap terjadi kebocoran dari pendapatan tiket,” tegasnya.

Ujang menjelaskan, kondisi di pintu masuk Pangandaran saat ini sudah banyak sekali aksi japrem. Selain itu, tiketing untuk bus Pariwisata dibayar di luar pintu masuk. “Untuk menyelamatkan aset dan meningkatkan PAD, instansi terkait bersama pihak keamanan harus segera melaksanakan tuntutan masyarakat,” tegasnya.

Senada dengan Ujang, Edi Rusmiyadi, mengatakan, aksi yang dilakukan oleh masyarakat dari 4 Desa berawal dari keprihatinan masyarakat dengan kondisi pariwisata Pangandaran, Masyarakat empat desa tersebut, yakni Desa Pangandaran, Desa Pananjung, Desa Wonoharjo dan Desa Cikembulan.

Masyarakat, menurut Edi, prihatin karena PAD dari pariwisata dari tahun ke tahun semakin menurun. Padahal, tingkat kunjungan wisatawan semakin meningkat. “Hal itu didasari dari kamar hotel di Pangandaran semakin banyak dan selalu terisi penuh pada setiap moment hari libur,” tuturnya. (Mad/Koran-HR)

- Advertisment -