Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaBerita BanjarIni Sepenggal Cerita Gigolo Pemuas Tante Girang di Kota Banjar

Ini Sepenggal Cerita Gigolo Pemuas Tante Girang di Kota Banjar

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Bagi para tamu yang datang dari luar kota, mereka seakan enggan untuk beranjak pergi meninggalkan kota kecil di ujung Timur Jawa Barat ini. Kota Banjar memang kota sejuta cerita, mulai dari dunia usaha, bisnis, hingga dunia malam yang menjurus pada bisnis esek-eseknya.

Tak terkecuali dengan komunitas pria penghibur wanita, atau lebih familiar disebut gigolo. Pasalnya, di Kota Banjar sendiri kini telah menjamur pria muda yang menjadi penghibur para wanita. Bahkan, hal itu telah menjadi buah bibir di kalangan masyarakat, khususnya mereka yang akrab dengan dunia malam. Pria gigolo ini biasanya nongkrong di pusat-pusat keramaian, seperti di supermarket/toserba, kawasan Rest Area Banjar Atas, dan Taman Kota.

Dandanan mereka pun terlihat necis dengan gaya rambut klimis. Makin merebaknya bisnis esek-esek via online tentu saja semakin memberi pilihan bagi para tante girang untuk menyalurkan hasrat birahinya.

Modusnya pun sangat sederhana, tinggal baca iklannya, lalu hubungi nomor telpon yang tertera dalam iklan tersebut. Seperti diungkapkan Raja (bukan nama sebenarnya). Pria berumur 23 tahun ini mengaku baru satu tahun menjalani bisnis sebagai pemuas para tante girang.

Dia mengaku, sebelum di Banjar, beberapa bulan lalu dirinya menjalani bisnis tersebut di Kota Bandung, dengan alasan untuk mencukupi biaya kuliahnya. “Awalnya sih coba-coba saat di Bandung. Tapi lama kelamaan asyik juga, banyak uang lagi,” tuturnya, kepada HR, ketika dijumpai di kawasan Jl. Kapten Jamhur, Sabtu (22/08/2015).

Raja menyebutkan, cara transaksi bisnis ini melalui pemasangan iklan pada situs-situs tertentu di internet. Dari iklan tersebut, dirinya kerap dihubungi oleh para tante yang kesepian via ponselnya.

“Saya tinggal pasang iklan saja, dari nomor ponsel hingga foto dan biodata lengkap tercantum di situ. Setelah pasang iklan, biasanya tidak lama pasti ada yang menelpon,” kata Raja.

Pengakuan serupa juga diungkapkan Brow (bukan nama sebenarnya). Pria berumur 28 tahun ini lebih berpengalaman dibanding Raja. Dia mengaku pernah berkencan dengan istri pengusaha, direktur, bahkan istri salah satu pejabat.

“Saya tidak mau pilih “tante” sembarangan, karena saya tetap ingin yang berkelas, seperti istri pengusaha, direktur, atau istri pejabat,” ucap pria berwajah tampan dan berkulit sawo matang ini.

Dia juga menuturkan, pernah pada suatu hari dirinya menjadi budak arisan para “tante.” Namun, setelah itu dirinya kapok dan tidak mau lagi menjadi budak arisan, sebab fisiknya terlalu dikuras.

Baik Raja maupun Brow, dalam menjalankan bisnisnya memang cukup terorganisir, sehingga tidak sembarangan dan mereka pun diasuh oleh seorang germo yang khusus untuk para gigolo.

Esoknya, Minggu malam (23/08/2015), sekitar jam 20.30 WIB, HR berhasil menemui salah seorang “tante girang” di kawasan Taman Kota. Sebut saja Kemuning (bukan nama sebenarnya), usianya sekitar 40 tahunan.

Wanita ini kini sedang mengalami masa “puber” disaat suaminya sibuk dengan urusan pekerjaannya. Dia mengakui, dengan cara “jajan” dirinya dapat memuaskan hasrat biologisnya. Kemuning mengaku kerap berkencan dengan gigolo yang ada di Kota Banjar dan Tasikmalaya. “Suami selalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga saya jarang diperhatikan,” ujarnya.

Untuk sekali “jajan” tak tanggung-tanggung mengeluarkan kocek dari Rp.500 ribu sampai Rp.1 juta. Diakuinya pula, bahwa suaminya pun memiliki simpanan dan sering berkencan dengan para PSK jika sedang ada urusan kerja di luar kota. “Saya memilih bermain dengan gigolo sebagai bentuk balas dendam terhadap suami saya,” ucap Kemuning.

Menyikapi adanya bisnis esek-esek seperti itu, Wakil Ketua Harian PMII Kota Banjar, Wahidan, mengatakan, jika dilihat dari sudut pandang hukum dan agama, perbuatan mereka sangat tidak dibenarkan.

Namun, karena faktor tekanan ekonomi dan kepuasan birahi menjadi pilihan bagi para gigolo tersebut. Selain tekanan ekonomi, alasan bagi para pria yang berbisnis syahwat ini pun sebagai trend masa kini.

“Depresi berat ekonomi, kurangnya lapangan pekerjaan, juga menyebabkan kalangan muda memilih jalan pintas untuk menjadi gigolo, guna memenuhi kebutuhan hidup. Disinilah peran pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan,” tegas Wahidan.

Menurut dia, dalam dunia gigolo ada dua jenis, yakni yang terorganisir dengan menggunakan jasa germo, dan ada pula yang independent, yaitu terbuka melalui iklan dan situs-situs tertentu di internet.

“Inilah salah satu fenomena kehidupan kota. Tidak hanya di kota besar saja, melainkan di kota kecil seperti Banjar ini pun kini sudah menjamur para pria pemuas tante girang,” kata Wahidan. (Hermanto/Koran-HR)