Sabtu, Juni 25, 2022
BerandaBerita PangandaranBegini Cerita Batu Kabuyutan yang Pernah Heboh di Pangandaran

Begini Cerita Batu Kabuyutan yang Pernah Heboh di Pangandaran

Batu Kabuyutan yang berada di Desa Binangun, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran. Foto: Entang Saeful Rachman/HR

Begini Cerita Batu Kabuyutan yang Pernah Heboh di Pangandaran

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Fenomena batu akik memang sempat mewabah ke seantero tanah air, salah satunya di wilayah Kabupaten Pangandaran. Namun akhir-akhir ini fenomena batu kembali menggeliat setelah batu kabuyutan yang terdapat di wilayah Kecamatan Sidamulih ditaksir dengan harga Rp. 10 milyar oleh seseorang penggila batu asal Jakarta.

Abah Kundil, Kasepuhan asal Desa Binangun, Kecamatan Sidamulih, ketika ditemui Koran HR, pekan lalu, mengatakan, batu kabuyutan ditemukan oleh Eyang Ican dan Eyang Ajasan di daerah Gang Siluman Sumur Bandung. Pada tahun 1970, batu kabuyutan sempat menghilang dan membuat warga Binangun merasa heran dan kaget.

“Semua warga Binangun, tua dan muda, berusaha mencari keberadaan batu kabuyutan tersebut, namun hasilnya tetap nihil,” katanya.

Namun, kata Abah Kundil, setelah puluhan tahun menghilang batu kabuyutan tiba-tiba kembali ditemukan. Tapi, lokasi batu tersebut tidak lagi di Gang Siluman Sumur Bandung, melainkan berada di Nusawiru Cijulang.

Lebih lanjut, Abah Kundil mengungkapkan, Batu Kabuyutan memiliki bobot sekitar 20 kilogram dan memiliki kekuatan magic yang luar biasa. Pasalnya, batu itu kerap mengeluarkan suara dentuman keras hingga terdengar oleh warga.

“Dari catatan sejarah yang ada di Desa Binangun, jika batu kabuyutan mengeluarkan suara seperti petir mengelegar, maka di Desa Binangun akan terjadi sebuah bencana. Dan itu terbukti,” ucapnya.

“Sebelumnya, Batu Kabuyutan yang sempat menghilang pada tahun 1970 dari Gang Siluman, Sumur Bandung, kembali dapat ditemukan di Nusawiru Cijulang pada tahun 1990 oleh Abah Kasnawi, seorang kasepuhan dan kuncen,” kata Camat Sidamulih, dr. Erik, ketika ditemui Koran HR, pekan lalu.

Erik mengungkapkan, Abah Kasnawi menemukan batu kabuyutan tersebut secara tidak sengaja. Abah Kasnawi kemudian menyerahkan kembali batu kabuyutan itu kepada sesepuh Desa Binangun.

Diakui Erik, batu kabuyutan memiliki histori bagi warga Binangun. Pasalnya, batu kabuyutan itu diperkirakan sudah ada sejak masa Hindu-Budha. Batu kabuyutan itu juga dipercaya sebagai simbol atau ciri dari Desa Binangun.

“Hasil rapat bersama para kasepuhan Desa Binangun dengan pemerintah, akhirnya disepakati batu kabuyutan dipelihara dan tidak dijual. Batu tersebut akan dijadikan sebuah prasasti tujuan objek wisata edukasi bagi para pelajar,” pungkasnya. (Ntang/Koran-HR)

- Advertisment -