Minggu, Juli 3, 2022
BerandaBerita PangandaranLagi, Penderita Gizi Buruk di Pangandaran Minim Perhatian

Lagi, Penderita Gizi Buruk di Pangandaran Minim Perhatian

Yadi (20), warga Desa Cibenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, yang juga menderita gizi buruk, mendapat bantuan kursi roda dari perusahaan Asa Cell Grup Pangandaran. Photo: Entang SR/HR.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Setelah Sifa, seorang remaja yang diketahui menderita gizi buruk selama 17 tahun tak mendapat perhatian dari pihak Pemerintah Kabupaten Pangandaran, kini giliran Yadi (20), warga Desa Cibenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, yang juga menderita gizi buruk, kini hanya bisa terbaring di dapur rumahnya.

Berdasarkan keterangan dari pihak keluarganya, sejak berumur 4 bulan Yadi terbaring sakit. Namun, sampai saat ini usia Yadi menginjak 20 tahun, masih juga terbaring di rumahnya, dan sama sekali tidak mengetahui bagaimana cahaya matahari yang sesungguhnya.

Pihak keluarga Yadi pun sudah berusaha keras untuk menyembuhkan sang buah hati agar bisa sembuh seperti layaknya anak-anak seusianya. Tapi karena terbentur biaya untuk pengobatan, sehingga keluarganya hanya bisa pasrah dengan keadaan.

Namun kini pihak keluarga merasa bahagia, sebab Yadi mendapat bantuan dari perusahaan Asa Cell Grup Pangandaran, yang bekerjasama dengan Wartawan Pokja Kabupaten Pangandaran, Jum’at (22/01/2016).

Menurut bagian humas Wartawan Pokja Pangandaran, Andriansyah, bahwa pihak keluarga menginginkan sebuah kursi roda untuk yadi agar bisa melihat dunia luar, dan merasakan hangatnya sinar matahari.

“Saat ini pihak perusahaan Asa Cell Pangandaran bekerjasama dengan Wartawan Pokja Pangandaran, mengabulkan permintaan pihak keluarga untuk memberikan kursi roda kepada Yadi. Selain kursi roda, perusahaan tersebut juga memberikan bantuan lainnya berupa sembako serta sejumlah uang,” kata Andriansyah.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun HR Online di lapangan, bahwa saat ini jumlah penderita gizi buruk di Kabupaten Pangandaran sedikitnya ada 42 orang, dan mereka rata-rata luput dari perhatian pihak pemerintah daerah. (Ntang/R3/HR-Online)

- Advertisment -