Sabtu, Juni 25, 2022
BerandaBerita CiamisSalut! Seorang Anak di Ciamis Mampu Menulis dengan Mulut

Salut! Seorang Anak di Ciamis Mampu Menulis dengan Mulut

Tio Satrio (11), tengah menulis menggunakan mulutnya. Kekurangan fisik yang dialaminya bukan suatu halangan untuk terus belajar. Photo: Dian SW/HR.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Banyak dari kita yang menjadikan kekurangan fisik sebagai alasan kegagalan hidup. Padahal cacat bukanlah suatu halangan untuk bisa terus belajar, seperti halnya yang dialami Tio Satrio (11), anak pasangan dari Wawan (61) dan Mimi (56), warga Dusun Cibogor, Desa Panawangan, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis.

Walaupun kondisi fisiknya kurang sempurna, Tio yang tidak memiliki dua kaki dan tangan seperti anak normal pada umumnya, namun kekurangan itu tidak menyurutkannya untuk terus belajar. Dia masih mampu menggunakan mulutnya untuk menulis.

Menurut Wawan, anaknya mengalami cacat dari sejak lahir. Padahal saudara-saudaranya lahir dengan kondisi normal. “Saya menerima apa yang diberikan Tuhan. Mungkin ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa, kita sekeluarga menerimanya. Bahkan, kami sebagai orang tua terus bertekad akan mengurus Tio sampai besar,” ungkapnya, kepada HR, saat ditemui di rumahnya, Kamis (28/01/2016).

Lebih lanjut Wawan menuturkan, semangat belajar Tio tumbuh saat masih berusia empat tahun. Ketika itu Tio mempunyai semangat untuk bisa menulis dengan mulut. Awalnya Tio memang sempat mengeluh, namun karena ibunya terus memberikan motivasi dan dengan penuh kesabaran membimbingnya, akhirnya Tio pun mempunyai semangat belajar.

Menginjak usia delapan tahun, atas bimbingan ibunya dan semangat pantang menyerah pada diri Tio sendiri, akhirnya Tio lancar menulis dengan mulut seperti halnya orang normal.

“Saat saya melihat Tio menulis memang sedikit menyayat hati. Pertama alat tulis disediakan oleh guru di sekolahnya, seperti buku dan pensil, lalu sambil mengeliat-geliat dengan posisi telungkup Tio meraih pensil menggunakan mulutnya,” tutur Wawan.

Dengan posisi kepala dimiringkan dan pensil dicapit oleh mulutnya, Tio mulai mencoretkan beberapa tulisan di atas buku. Sulit dipercaya, namun kenyataannya tulisan yang dibuat Tio menggunakan mulut, hasilnya tidak jauh berbeda dengan tulisan yang dibuat oleh tangan.

Menurut Wawan, beberapa keahlian Tio didapatnya dari menonton televisi. Selain mahir menulis menggunakan mulut, juga mahir memainkan game melalui konsol playstation dengan menggunakan dagu dan bahunya.

Sejak delapan bulan lalu, Tio memiliki kesibukan baru. Dia tidak lagi diam di rumah setiap hari, tetapi bisa belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Firdaus. Kebetulan sekolah tersebut baru dirintis sehingga memerlukan murid yang berkebutuhan khusus secara gratis.

Dari hari Senin sampai Sabtu diantar jemput oleh guru-guru di SLB tersebut. Sepulang sekolah Tio mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Tio sendiri mengaku tidak sulit menulis menggunakan mulut karena memiliki kesungguhan untuk terus belajar. Sedangkan mata pelajaran yang paling disukainya adalah matematika.

Saat ditanya tentang cita-citanya nanti, dia menjawab bahwa cita-citanya banyak. Akan tetapi yang ada dalam pikirannya sekarang hanya terus belajar dan belajar.

“ Kalau cita-cita banyak dan berharap bisa menjadi orang yang bermanfaat. Dengan kondisi ini saya hanya bisa pasrah dan terus belajar. Dengan semangat belajar saya jadi bisa ngaji dan berhitung,” tutur Tio.

Dia juga mengungkapkan, bahwa dirinya hanya bisa mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan, meski dengan kondisi fisik seperti itu. Yang paling penting untuknya saat ini adalah belajar dan terus belajar.

Sementara itu, Kepala SLB Firdaus, Mela Shakinawati, mengatakan, selama 8 bulan Tio bersekolah, perkembangannya terbilang sangat pesat dan bisa menangkap seluruh materi yang diberikan guru lantaran IQ-nya normal.

Saat mendapatkan tugas pekerjaan rumah dari gurunya, Tio selalu mendapatkan nilai cukup bagus, yaitu 90 sampai 100.

“Tio tergolong anak yang pintar, bahkan bila dia bersekolah di Sekolah Dasar Negeri pun sebetulnya mampu. Hanya saja harus dipersiapkan mentalnya terlebih dahulu,” kata Mela. (DSW/R3/HR-Online)

- Advertisment -