BerandaBerita BanjarWarga Mengeluh, Jalan Perbatasan Banjar-Ciamis Berlubang

Warga Mengeluh, Jalan Perbatasan Banjar-Ciamis Berlubang

Lubang sedalam 10-15 centimeter Jalan Raya Langensari-Lakbok yang berada di Kelurahan Muktisari dan Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, dianggap menggangu kenyamanan para pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com

Sejumlah pengendara mengeluhkan banyaknya jalan berlubang di sepanjang Jalan Raya Langensari-Lakbok yang berada di Kelurahan Muktisari dan Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar.

ADVERTISEMENT

Menurut warga sekitar, lubang menganga tersebut merupakan sisa tambalan aspal yang sebelumnya berlubang. Sedangkan rata-rata kedalaman lubang mencapai 10-15 centimeter, dengan bentuk lubang kotak maupun melingkar.

“Aspal kok kayak jalan di gunung, jalannya ada gundukan dan lubang yang cukup dalam. Kalau satu atau dua titik mah wajar, tapi ini puluhan titik loh,” ujar Warsito, warga Dusun Sukarahayu, Desa Waringinsari, kepada Koran HR, pekan lalu.

Dia menyesalkan, walaupun kerap ditambal, namun struktur jalan tidak rata. Akibatnya, banyak pengendara yang kecewa dan resah dengan kondisi kerusakan di jalan yang menghubungkan dua desa tersebut.

“Kalau jalannya halus seperti di-hotmix kan enak. Ini mah, sudah jalannya banyak yang berlubang seperti kubangan ketika hujan, ditambah kendaraan besar kerap melintas. Akibatnya aspal semakin terkikis. Katanya perbedaan antara Banjar sama Ciamis itu jalannya, lah ini kok sama saja,” ketus Warsito.

Dari kikisan jalan berlubang itu mengakibatkan kepulan debu dan banyaknya batu-batu kecil menghadang para pengendara. Mereka tampak tampak hati-hati ketika melintas jalan tersebut karena takut tergelincir.

Tak sedikit pengendara sepeda motor yang mengalami kecelakaan. Pasalnya, selain banyak lubang, jalan tersebut juga tidak ada lampu penerangan jalan umum (PJU), sehingga pengendara yang tidak tahu jalan akan terjebak, terutama pada malam hari.

Satinah (42), warga RT. 9, RW. 8, Dusun Sukarahayu, Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, mengaku sering mendengar, bahkan menyaksikan kecelakaan terjadi di jalan dekat rumahnya. Menurut dia, banyak pengendara tergelincir maupun tabrakan “adu bagong” karena berebut jalan yang halus. (Muhafid/Koran-HR)

BERITA TERBARU