BerandaBerita BanjarMiskin di Usia Senja, Kakek di Banjar Ini Hidup dari Pemberian Dermawan

Miskin di Usia Senja, Kakek di Banjar Ini Hidup dari Pemberian Dermawan

Hidup di usia senja dalam jeratan kemiskinan, pengagum sang proklamator, Marlan (103), kesehariannya hanya bisa duduk atau berbaring tidur akibat menderita sakit asma dan osteoporosis. Tampak dia memperlihatkan uang mainan pecahan Rp.100.000 bergambar Soekarno. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

ADVERTISEMENT

Sudah 2 tahun lebih Marlan (103), warga Dusun Sindangmulya, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, sehari-harinya hanya bisa duduk atau berbaring tidur akibat menderita sakit asma dan osteoporosis. Terlebih usianya pun sudah sangat tua.

Kakek yang tinggal berdua bersama istrinya, Suminah (62), hidup dengan penuh keterbatasan. Suminah sendiri bekerja hanya sebagai buruh tani serabutan, sehingga untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, mereka kerap mengandalkan pemberian dari tetangganya maupun orang dermawan lainnya.

Saat Koran HR berkunjung ke rumahnya, Minggu (15/05/2016) lalu, Marwan mengaku memiliki 7 orang anak, semuanya tinggal di luar Banjar dan sudah berumah tangga. Dirinya juga selalu bersyukur hidup ditemani seorang istri serta photo anak dan cucunya yang dipajang pada dinding blik bambu rumahnya.

“Alhamdulillah ada saja yang memberi beras atau makanan, mungkin karena kasihan. Saya sakit sejak diusir oleh pemilik tanah yang saya huni dulu. Kini saya dan istri menempati tanah milik adik saya, untungnya diperkenankan, walaupun listriknya masih nyolok ke tetangga,” tutur Marlan, yang mengaku sangat mengagumi sosok sang proklamator, Ir. Soekarno.

Sementara itu, Suminah, mengatakan, walaupun hidupnya dalam kondisi miskin, namun ia tetap selalu bersyukur dan bahagia menikmati kemerdekaan. Dengan kondisi suaminya yang sudah lanjut usia, dia hanya berharap kemiskinan yang menjeratnya dapat diringankan dengan bantuan dari dermawan.

Beberapa kali dijanjikan mereka mau diberi bantuan pemasangan listrik gratis, tapi sampai sekarang belum juga direalisasikan. Begitu pula dengan bantuan rutilahu dari pemerintah.

“Masalah perhatian pemerintah terhadap kami, mudah-mudahan saja pemerintah tergerak agar kami dapat menikmati secuil kemerdekaan ini. Selain itu, suami saya juga merindukan Soekarno. Suami saya ingin sekali bertemu anak atau cucu beliau sebelum tutup usia,” kata Suminah. (Muhafid/Koran-HR)

BERITA TERBARU