Selasa, Agustus 9, 2022
BerandaBerita BanjarProstitusi Kalangan Pelajar di Kota Banjar Marak, Sejumlah Kalangan Cemas

Prostitusi Kalangan Pelajar di Kota Banjar Marak, Sejumlah Kalangan Cemas

Ilustrasi Prostitusi. Foto: Ist/Net

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Meningkatnya perilaku seks bebas di kalangan remaja atau pelajar, menimbulkan keprihatinan bagi semua kalangan. Pasalnya, tak sedikit kalangan remaja bisa dengan mudahnya terjerumus dalam dunia prostitusi tanpa memikirkan dampak penyakit, moral, dan psikososial yang ditimbulkan.

Seperti diungkapkan Pengelola Program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Banjar, Boni Mastriolani, kepada Koran HR, pekan lalu, bahwa Penjaja Seks Komersial (PSK) dari kalangan pelajar di Kota Banjar kini mulai marak. Bukan hanya siswi tingkat SMA saja, tapi ada pula siswi yang masih SMP. [Berita Terkait: Mengintip Geliat Prostitusi “Ciblek” di Kota Banjar]

“Pihak sekolah jangan tutup mata dengan keberadaan para PSK di kalangan pelajar. Bahkan yang lebih mirisnya lagi, menurut informasi yang kami terima, diantara mereka itu ada yang dijual orang tuanya ke lelaki hidung belang,” terangnya.

Di Banjar sendiri, lanjut Boni, untuk jumlah kasus HIV positif per bulan Mei 2016 sudah mencapai 150 orang, salah satunya remaja perempuan yang masih berusia 16 tahun. Untuk itu, pihaknya berharap agar semua kalangan ikut berpartisipasi dalam menanggulangi masalah tersebut.

Sementara itu, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar, Tsabit Andri Habibi, mengatakan, derasnya arus globalisasi ternyata benar-benar menjadi hal yang menakutkan bagi bangsa ini. Masuknya budaya westernisasi kebarat-baratan telah menggerus budaya bangsa Indonesia yang sopan santun, bermoral dan berkeadaban.

“Dalam konteks lokal khususnya di Kota Banjar, dengan merebaknya prostitusi, glamoria, hedonisme bahkan fenomena cabe-cabean dan LGBT di kalangan remaja pelajar, ini merupakan wujud dari penampakan adanya degradasi moral yang merusak sendi-sendi budaya sosial kita,” katanya.

Tsabit menilai, pencarian identitas diri bagi remaja atau pelajar diperoleh dari lingkungan. Sementara di lingkungan remaja itu sendiri penuh dengan hal-hal yang negatif. Jika remaja tidak kuat, maka akan hanyut mengikuti arus yang ada. Hal-hal seperti inilah yang mudah menyeret remaja itu ke kasus pelacuran remaja.

Faktor ekonomi, faktor kenakalan remaja, faktor lingkungan, sosial, adat dan budaya ini merupakan unsur prioritas yang mesti diperhatikan bersama dalam bingkai nasionalisme. Tanpa nasionalisme, bangsa ini akan dicabik-cabik oleh budaya westernisasi yang terus merongrong.

Dalam hal ini, perlu adanya kekompakan bersama semua elemen masyarakat, terutama pihak Pemerintah Kota Banjar supaya benar-benar memperhitungkan segala hal yang akan terjadi. Terutama dengan merebaknya kasus yang sedang melilit moralitas remaja pelajar.

“Ini harus dijadikan catatan oleh Pemkot Banjar melalui Dinas Pendidikan, agar bisa mengkontrolnya, bahwa kita tahu bentuk penjajahan baru neoimperialisme dan neokolonialisme di Replublik ini sudah hampir tidak nampak wujudnya. Mereka bisa menggunakan segala embel-embel untuk merobohkan keutuhan NKRI,” ungkap Tsabit.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Pemuda Pancasila Kota Banjar, Asep Yusuf, mengatakan, bahwa Pemkot Banjar melalui Dinas Pendidikan harus responsif dalam kebijakanya. Pendidikan karakter dan pemahaman nasionalisme harus ditumbuhkan dalam jiwa peserta didik.

Hal itu supaya mereka tahu dan tentunya bisa memilah dan memilih mana budaya-budaya yang baik dan mana budaya yang mesti ditinggalkan. Kebijakan yang mendorong terhadap pemupukan wawasan pendidikan karakter dan moralitas pelajar untuk bisa memahami jati diri, dan identitas budaya bangsa dalam memupuk rasa nasionalisme.

“Karena dengan nasionalisme inilah kita bisa mencegah budaya-budaya barat yang akan masuk dan merusak moral bangsa,” tegas Asep. (Hermanto/Koran-HR)