Di Pantai Madasari Pangandaran Layak Berdiri Museum Tsunami

Pantai Madasari
Tugu peringatan bencana tsunami yang berdiri di Pantai Madasari Blok Bulak Benda, Dusun Madasari, Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, kini kondisinya semakin tidak terawat. Foto: Asep Kartiwa/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-Sejumlah kalangan menyesalkan tidak terawatnya tugu peringatan bencana tsunami yang berdiri di Pantai Madasari Blok Bulak Benda, Dusun Madasari, Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Menurut mereka, seharusnya tugu tsunami itu dikembangkan menjadi sebuah museum bersejarah yang tujuannya untuk daya tarik parawisata dan mengenang tragedi bencana paling dasyat yang merenggut ratusan jiwa warga setempat.

Toto, pengelola sebuah Tour Operator Wisata Pangandaran, mengatakan, Pantai Madasari Pangandaran atau tepatnya di Blok Bulak Benda dan Blok Cidadap merupakan daerah paling parah terkena dampak bencana tsunami yang terjadi pada 17 Juli 2016 silam.

“Sebagian besar rumah penduduk di sini rata dengan tanah akibat bencana tsunami. Dan korban jiwa pun jumlahnya sangat banyak atau hampir sebanding dengan jumlah korban tsunami di pantai Pangandaran,” katanya, kepada Koran HR, Senin (06/06/2016).

Toto menambahkan, apabila menyimak dari sejarah tersebut, maka di pantai Madasari layak dibangun sebuah monumen dan museum peringatan tsunami. Dan setiap setahun sekali atau tepatnya pada tanggal 17 Juli, kata dia, harus digelar sebuah peringatan bencana tsunami yang dikemas dalam event parawisata.

“Tujuannya tak hanya sebagai daya tarik parawisata saja, tetapi juga untuk mengingatkan kepada penduduk setempat bahwa bencana dasyat pernah terjadi di daerahnya. Hal itu sangat dibutuhkan agar mereka selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana,” ujarnya.

Toto mencontohkan, di Gunung Merapi Yogyakarta, warga setempat mengumpulkan barang-barang bekas yang rusak akibat bencana letusan merapi di sebuah rumah yang kini dijadikan museum. Kini, kata dia, museum tersebut menjadi daya tarik parawisata dan menjadi destinasi unggulan di objek wisata tersebut.

“Tapi, perlu dicatat bahwa ide ini bukan maksud menjual sebuah musibah. Dalam peristiwa apapun pasti ada dampak, baik positif maupun negatif. Kami mengulirkan ide ini hanya menangkap peluang saja, karena di daerah lain pun ternyata bisa dikemas menjadi potensi wisata. Di Kabupaten Pangandaran, sangat mungkin bisa, tinggal ada keinginan dari semua pihak,” katanya.

Ketua Kompepar (Kelompok Penggerak Parawisata) Kabupatan Pangandaran, Edi Rusmiadi, mengatakan, pihaknya sangat setuju apabila di beberapa objek wisata pantai yang pernah terkena dampak bencana tsunami dibuat sebuah museum. Hal itu, kata dia, tujuan utamanya untuk memberikan pengetahuan dan pembelajaran kepada generasi muda di Kabupaten Pangandaran.

“Tujuan utamanya adalah pengetahuan dan memberi peringatan kepada warga di pesisir pantai agar selalu sigap dan waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana. Tetapi, dari tujuan utama tadi, bisa berdampak juga terhadap daya tarik parawisata,” katanya.

Selain museum, lanjut dia, harus juga diperingati tragedi bencana tsunami yang digelar pada setiap tahunnya. “Seperti di Bali contohnya, hampir setiap tahun diperingati tragedi bom Bali. Dan acara itu pada pelaksanaannya jadi daya tarik parawisata. Jadi, dalam setiap moment pasti ada potensi wisatanya,” pungkasnya. (Askar/Koran-HR)