Kamis, Agustus 18, 2022
BerandaBerita BanjarBegini Cerita Asal Mula Nama Kampung Randegan di Kota Banjar

Begini Cerita Asal Mula Nama Kampung Randegan di Kota Banjar

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Sebagian besar masyarakat Kota Banjar, Jawa Barat, merupakan pendatang dari luar daerah. Belum ditemukan satu situs makam tokoh yang memiliki keturunan asli dan menjadi saksi bisu bahwa Banjar sudah ada sejak zaman dulu.

Adanya sebuah daerah kampung Randegan di wilayah Pemerintahan Desa Raharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, menjadi catatan penting bahwa Banjar adalah kota transit.

Secara bahasa, Randegan diartikan oleh sebagian penduduknya yang berlatarkan Suku Jawa adalah Pemandegan, dimana Mandeg artinya tempat berhenti. Sedangkan, menurut penduduk Suku Sunda, Randegan dikaitkan dengan kata Pangrandeg/Pangeureunan yang artinya tempat berhenti.

Menurut Kepala Desa Raharja, Hasyim, bahwa di wilayah pemerintahannya ada dusun yang bernama Randegan 1 dan Randegan 2. Secara kependudukan, masyarakat Desa Raharja terdiri atas dua suku besar, yakni Jawa dan Sunda.

“Berdasarkan cerita orang tua zaman dulu, penduduk suku Jawa di sini berasal dari daerah Kroya, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kebumen. Sedangkan suku Sunda berasal dari daerah Kawali dan Gegempalan, Kabupaten Ciamis. Semuanya pendatang,” ungkap Hasyim, saat ditemui HR di rumahnya, Selasa (19/07/2016).

Dalam penjelasannya, lanjut Hasyim, dulunya kampung Randegan yang kini terletak di Desa Raharja dan Desa Mekarharja, merupakan daerah yang sering mengalami banjir dari Sungai Citapen dan Cijolang. Namun, setelah para pendatang mulai menempati daerah tersebut, kini banjir sudah jarang terjadi, kecuali di sebagian lahan pesawahan.

“Kalau secara umur, berdasarkan makam keramat yang ada, yakni makam Mbah Tanu, pendatang pertama ke daerah sini, sekitar 100 tahun lebih daerah ini dihuni sampai sekarang. Secara pertumbuhan sangat pesat, terutama ditopang adanya komplek perumahan, tercatat ada 200 perum yang rata-rata penghuninya adalah pendatang,” terangnya.

Para pendatang yang sudah tinggal di Randegan sering disusul oleh keluarga maupun saudaranya dari kampung di dua suku besar tersebut. Sehingga, daerah Randegan menjadi ‘pangeureunan’ atau tempat bernaung para pendatang.

Setiap bulan Muharam, masyarakat Randegan selalu memperingati napak tilas pendahulunya dengan melakukan ziarah ke makam Mbah Tanu yang berada di komplek TPU Raharja.

“Jadi saya pikir antara Sunda dan Jawa sepakat bahwa Randegan bermakna sama, yaitu tempat berhenti, dan pembuktiannya mereka ada di sini,” jelas Hasyim.

Senada dikatakan Kepala Dusun Randegan 2, Marino, bahwa kata Randegan berdasarkan sejarah bermula saat penjajahan Belanda. Pada saat itu, masyarakat yang hendak menyelamatkan diri dari kejamnya penjajah Belanda menempati daerah Randegan.

“Lama-lama sebagai pendatang mereka betah dan turun-temurun semakin bertambah, baik melalui proses pernikahan maupun membawa sanak saudaranya ke Randegan,” kata Marino, ketika dihubungi HR via telepon.

Secara jelas, lanjut Marino, keturunan Mbah Tanu tidak ada di Banjar, yang ada hanya makamnya saja. Diduga saat menghuni Randegan Mbah Tanu hanya seorang diri dan tidak memiliki keluarga.

“Jadi Randegan memang mengartikan keadaan sebenarnya dari masyarakat sini, yakni pendatang. Secara bahasa, tidak perlu diperdebatkan karena dari Jawa dan Sunda mengartikan yang sama,” pungkasnya. (Muhafid/Koran-HR)