Ilustrasi Kejahatan Seksual. Foto: Ist/Net
Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-
Kasus kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak di Kota Banjar meningkat. Sebagaimana tercatat di Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Banjar, terhitung dari Januari hingga Juni 2016 atau selama enam bulan saja sudah ada 12 kasus. Sementara di sepanjang tahun 2015 lalu hanya mencapai 12 kasus.
Sekretaris P2TP2A Kota Banjar, Tati Hartati, menyebutkan, di tahun 2016 ini, 12 kasus dalam rentang waktu enam bulan itu terdiri dari 10 kasus pelecehan seksual, dan 2 kasus pencurian anak.
“Ya kalau melihat data tersebut, berarti bisa jadi kasus kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak pada tahun 2016 di Kota Banjar ini meningkat,” terang Tati, yang juga sebagai Kabid. Pemberdayaan Perempuan BKBPP Kota Banjar, saat ditemui HR pekan lalu.
Dia menilai, penyebab meningkatnya angka kasus tersebut salah satunya akibat si anak broken home atau kurangnya bimbingan orang tua, sehingga anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas. Hal ini menandakan pula bahwa pola hidup masyarakat masih kurang baik.
Selain itu, ada pula yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, arus globalisasi tak tertahankan atau korban negatif informasi teknologi (IT). Sedangkan, untuk korbannya mayoritas berasal dari keluarga pra KS.
Tati mengaku, dalam penanganan masalah ini, pihaknya pun terus berupaya melakukan pencegahan, mulai dari menjalin kemitraan dengan RT/RW, baik dalam kesempatan sosialisasi dan meminta disampaikan saat pengajian di setiap lingkungan masing-masing.
“Termasuk korban diberi pendampingan psikolog berupa penanganan trauma konseling. Kita datangi rumahnya dan memberikan semangat kepada korban hingga beberapa kali. Bahkan, ada korban yang kita bantu dikirimkan ke pesantren,” jelasnya.
Sementara itu, terkait kebutuhan rumah singgah bagi penanggulangan korban kejahatan seksual, menurutnya untuk di Kota Banjar belum dianggap begitu perlu. Karena, dengan memiliki rumah singgah tentu menjadi dilema tersendiri bagi pihaknya, sebab akan menambah beban operasional, meskipun itu menjadi keharusannya. Apalagi belum diimbangi jumlah kasus yang ada.
“Kasus kejahatan atau kekerasan seksual yang ada di Banjar kan belum terlalu tinggi, peningkatannya tidak begitu drastis. Intinya dilihat sekarang kasus tidak seimbang dengan perlunya rumah singgah,” tandasnya.
Tati menambahkan, yang terpenting bagi pihaknya yaitu selalu siap dan akan terus berupaya melakukan pendampingan kepada korban kejahatan seksual. Saat penanganan kasus pun, P2TP2A bukan hanya mendampingi saja, namun juga meneliti penyebabnya sampai korban sendiri dapat pulih dari kemungkinan gangguan psikis. (Nanks/Koran-HR)