Jumat, Agustus 19, 2022
BerandaBerita CiamisCerita Dibalik Keindahan Curug Tujuh Panjalu Ciamis

Cerita Dibalik Keindahan Curug Tujuh Panjalu Ciamis

Curug Tujuh Panjalu

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Curug atau air terjun dan alam di sekitarnya kerap menjadi daya tarik yang sangat menjual untuk pariwisata. Begitupun dengan Curug Tujuh yang berada di kawasan Wana Wisata Curug Tujuh Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Panjalu, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Ciamis.

Kawasan itu memiliki luas sekitar 40 hektar yang dikelilingi Bukit Ciparang dan Cibolang, di kaki Gunung Sawal. Kawasan ini terletak pada ketinggian antara 800 sampai 900 meter diatas permukaan laut dengan suhu udara berkisar 17 sampai 18 derajat celsius.

Sesuai namanya, curug ini memiliki tujuah buah air terjun yang tersebar dan lokasi tidak terlalu berjauhan. Bahkan terdapat dua curug yang letaknya berdampingan, jaraknya sekitar dua meter. Setiap curug ini memiliki nama, yaitu curug satu, curug dua, curug tiga, curug cibolang, curug cimantaja, curug cileutik dam curug cibuluh. Ketujuh curug ini mengalirkan air ke Sungai Cibolang dan Cimantaja.

Air yang jatuh dari ketujuh curug ini seakan tak pernah surut, sekalipun saat musim kemarau. Bahkan berdasarkan hasil penelitian, air yang mengalir mengandung unsur belerang yang diyakini berkhasiat untuk penyembuhan sejumlah penyakit kulit.

Sumber air curug ini berasal dari Cimantaja yang menurut mitos Cimantaja berarti air mata raja. Konon, dulu ada seorang raja yang merasa prihatin terhadap keadaan wilayahnya akibat kemarau panjang. Air tidak ada dan tanah kering membuat rakyatnya dirundung sengsara berkepanjangan. Sang raja kemudian bertapa untuk memohon supaya diturunkan hujan dengan harapan kondisi negerinya kembali seperti sediakala.

Namun usaha sang raja tidak mendapat respon dari penguasa alam. Gara-gara merasa usahanya gagal, sang raja bersedih dan menangis. Saat itulah keajaiban terjadi, air mata raja yang terus bercucuran berubah menjadi genangan air jernih yang besar dan membentuk aliran air yang kemudian terpecah dan jatuh di tujuh buah tebing. Berkat itu, keadaan negeri tersebut kembali sejahtera. (Deni/R4/HR-Online)

Sumber : Buku “Ciamis Kiwari”