Kembangkan Seni Perkusi & Peduli Lingkungan, Curug Community Banjar Manfaatkan Limbah Plastik

Anggota Curug Community, Desa Balokang, saat berlatih untuk mengikuti kegiatan helaran Hari Jadi Kota Banjar ke-14 yang digelar beberapa waktu lalu. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Perkusi adalah sebuah instrumen seni dari getaran suara dan nada dari suatu alat musik yang dimainkan secara dipukul. Intinya, semua benda bisa dijadikan alat perkusi, dan yang paling murah biasanya dari barang-barang bekas peralatan rumah tangga, seperti panci, galon air, wajan, ember bekas, dan lain-lain.

Hal inilah yang dilakukan para pemuda Dusun Cibeureum, Desa Balokang, Kecamatan Banjar, Kota Banjar. Kaum muda ini membentuk sebuah komunitas yang diberi nama Curug`Community. Komunitas ini dibentuk pada tanggal 14 Oktober 2015 dan bermarkas di Jalan Peta, Gang Curug, RT. 2/1, Desa Balokang, Kota Banjar.

Komunitas seni perkusi yang digagas Ervan dan Dadan ini memanfaatkan barang bekas dari sampah keras untuk dijadikan sebuah alat musik perkusi. Namun, tidak sembarangan cara memainkan alat perkusi, karena si pemain harus bisa memainkannya dengan keahlian khusus. Sehingga, barang bekas yang tadinya hanya sebuah sampah bisa disulap menghasilkan suara yang harmoni dan indah saat dimainkan.

Menurut Ervan, seni perkusi Curug`Community ini berawal dari rasa kepedulian terhadap lingkungan. Kemudian, rasa peduli tersebut dituangkan dengan cara mendaur ulang sampah-sampah keras yang selanjutnya dijadikan sebuah alat musik.

“Alat musik yang digunakan berupa barang bekas peralatan rumah tangga seperti panci, galon air minum, dan ember besar bekas cat. Hal ini dilakukan karena kami peduli dengan lingkungan, makanya memanfaatkan barang bekas untuk dijadikan sebuah alat musik perkusi,” tuturnya, saat dijumpai Koran HR, Minggu (05/03/2017), di sekretariat Curug Community.

Selain dalam bidang perkusi, Curug Community juga menggeluti bidang seni dan budaya, sehingga dalam menghidangkan sebuah karya seninya terlihat indah dan harmoni. Dalam perkusi biasanya menggunakan tekhnik double stroke yang dimainkan dengan cara bersahutan dan saling mengisi kekosongan.

“Kemudian kami isi dengan sentuhan harmoni dari suara gamelan dan gitar, sehingga nada yang dikeluarkan akan terdengar indah,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ervan mengatakan, pada tahun 2016 lalu, Curug Community pernah beberapa kali pentas di luar daerah, seperti di Garut, Tasikmalaya, Purwakarta. Bahkan, beberapa kali mendulang prestasi, salah satunya berhasil menyabet gelar juara 3 pada Helaran Seni Hari Jadi Kota Banjar yang ke-14 membawa nama Desa Balokang.

Pihaknya pun mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam penanganan sampah, terutama sampah keras supaya dapat didaur ulang menjadi barang yang berguna dan bermanfaat. Salah satunya dijadikan alat musik perkusi.

“Limbah plastik yang menumpuk di lingkungan butuh perhatian serius. Untuk itu perlu adanya usaha supaya dapat membangkitkan motivasi dalam mengembangkan sumber yang ada pada masyarakat,” pungkasnya. (Hermanto/Koran HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar