Kamis, Mei 26, 2022
BerandaBerita PangandaranDi Pangandaaran, Demiz Sebut Hutan Lindung Jabar Baru Capai 37 persen

Di Pangandaaran, Demiz Sebut Hutan Lindung Jabar Baru Capai 37 persen

Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mizwar, saat berkunjungke Dapur Umum Tagana dan Pusat Data Informasi di Desa Cikembulan Senin (09/10/2017) lalu. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mizwar, saat kunjungannya ke Dapur Umum Tagana dan Pusat Data Informasi di Desa Cikembulan Senin (09/10/2017) lalu menuturkan, bahwa Pemkab Pangandaran mengajukan permohonan perubahan status dari hutan produksi ke hutan lindung adalah hal yang wajar. Sebab, target di Jawa Barat itu sebesar 45 persen hutan lindung yang mana sampai saat ini baru mencapai 37 persen.

“Baru 37 persen kawasan hutan lindung saja sudah ada pembalakan liar dan juga tiba-tiba ada perhutanan sosial. Jelas ini akan mengurangi 129 ribu hektar untuk dijadikan kawasan hutan lindung yang diminta dan menjadi lebih sulit,” kata Demiz.

Demiz mengaku hingga saat ini belum mengetahui kawasan mana saja yang merupakan hutan produksi. Dengan itu, ia menilai perlu adanya kajian dari pemerintah untuk mengetahui hutan produksi mana saja yang akan dijadikan kawasan hutan lindung sebagai penyangga daerah.

“Jangan asal tebang lagi. Kita tanami di lahan yang kritis dan kita dorong terus penghijauan. Kita tidak menutup mata di lahan Perhutani ada kerusakan. Apalagi sekarang muncul adanya persoalan perhutanan sosial, bahkan akan membabat semua hutan produksi. Makanya kita stop dulu implementasi perhutanan sosialnya agar dampaknya tidak hanya pada alam saja, akan tetapi dampak sosial juga dipikirkan,” jelasnya.

Demiz menegaskan, tidak semua hutan produksi asal ditebang, akan tetapi melihat daerahnya masing-masing. Dengan adanya rencana perlindungan terhadap 129 ribu hektar hutan, maka permintaan penebangan pada hutan produksi harus melalui pertimbangan kajian lingkungan hidup agar tidak menimbulkan gejolak sosial.

“Mari kita peduli terhadap lingkungan dan juga tetap melestarikan hutan. Sehingga tidak terjadi lagi banjir bandang dan longsor di kemudian hari,” ajaknya. (Mad/R6/Koran HR)

- Advertisment -