Jumat, Mei 27, 2022
BerandaBerita PangandaranPenyebab Banjir di Pangandaran Akibat Hutan Rusak? DPKPBD: Harus Dilakukan Penelitian

Penyebab Banjir di Pangandaran Akibat Hutan Rusak? DPKPBD: Harus Dilakukan Penelitian

Sungai Jamanis di Desa Karangbenda, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, meluap dan mengakibatkan areal persawahan dan kolom warga terendam banjir, Sabtu (07/10/2017). Foto: Entang SR/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Bencana banjir bandang yang diakibatkan dari sungai meluap bukan kali ini saja terjadi di wilayah Kabupaten Pangandaran. Tetapi, tahun sebelumnya pun bencana serupa melanda daerah selatan Jawa Barat ini, hingga mengakibatkan jembatan Ciputrapinggan yang merupakan akses vital menuju Pangandaran, ambruk.

Penyebab banjir yang terjadi pada Sabtu (07/10/2010) lalu, hampir sama dengan yang terjadi pada tahun lalu, yakni ketika hujan deras dengan intensitas tinggi atau dalam kurun waktu seharian mengguyur wilayah Pangandaran, langsung mengakibatkan sejumlah sungai meluap.

Berita Terkait: Duka Pangandaran, Persib Bandung akan Kenakan Pita Hitam Saat Lawan Barito Putera

Spekulasi pun kini muncul bahwa penyebab banjir di wilayah Kabupaten Pangandaran disebabkan dari maraknya penebangan pohon di beberapa kawasan hutan yang berfungsi sebagai penyimpan cadangan air.

Ketika kawasan hutan menjadi gundul akibat aksi penebangan, otomatis tak berfungsi lagi sebagai penyimpan cadangan air. Dengan begitu, air hujan yang ditumpah dari langit langsung mengalir ke sungai. Sehingga, aliran sungai tak mampu lagi menampung debit air dan kemudian menyebabkan banjir.

Berita Terkait: 220 Rumah Warga yang Berada di Kecamatan Pangandaran Masih Terendam Banjir

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Daerah (DPKPBD) Kabupaten Pangandaran, Nana Ruhena, mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan terkait penyebab banjir yang sering terjadi di wilayah Kabupaten Pangandaran. Menurutnya, memang banyak pihak yang mengasumsikan bahwa penyebab banjir diakibatkan dari kerusakan hutan akibat maraknya aksi penebangan.

“Tetapi, pendapat itu baru sebatas asumsi dan belum dibuktikan oleh sebuah kajian dan penelitian ilmiah,” katanya, ketika menggelar konferensi pers, di kantor DPKPBD Kabupaten Pangandaran, Minggu (08/10/2017).

Namun begitu, lanjut Nana, pihaknya sudah mengusulkan ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) untuk melakukan kajian dan penelitian ilmiah guna mengetahui penyebab banjir yang sering melanda wilayah Kabupaten Pangandaran.

“Selain itu, kami pun akan mengusulkan melakukan kajian dan penelitian di Dusun Sangkanbawang, Desa Kalijati, Kecamatan Sidamulih, guna mengetahui seberapa bahayanya pergerakan tanah yang kerap mengakibatkan bencana longsor,” ujarnya.

Nana menambahkan, setelah bencana longsor di daerah Sangkanbawang menimbulkan korban jiwa dan merusak sejumlah akses jalan, tentunya perlu dilakukan penanganan serius. Apabila berdasarkan hasil kajian menyebutkan bahwa pergerakan tanah di daerah Sangkanbawang akan terus menimbulkan bencana longsor, maka rumah penduduk yang terancam terkena dampak harus direlokasi ke tampat lain.

“Apabila kajian dan penelitian terkait penyebab banjir dan longsor sudah dilakukan, maka hasilnya akan direkomendasikan ke Pak Bupati. Dari hasil kajian itu Pak Bupati bisa melakukan langkah-langah strategis guna melakukan upaya pencegahan agar tidak terjadi lagi bencana banjir dan longsor yang berdampak luas,” ungkapnya.

Nana juga mengatakan dari hasil pengecekan lapangan bahwa di wilayah Kabupaten Pangandaran banyak terdapat daerah yang dikategorikan rawan longsor. Karena, menurutnya, di wilayah Pangandaran banyak daerah perbukitan dan lembah, yang dimana sangat rawan terjadinya longsor.

“Dengan kondisi alam Pangandaran seperti itu, memang dibutuhkan alat pendektsi dini atau Early Warning Sistem yang dipasang di beberapa titik rawan longsor dan banjir. Dengan adanya alat itu setidaknya warga yang berada di sekitar titik longsor bisa mendapat peringatan akan bahaya bencana. Dengan begitu, mereka bisa menyelamatkan diri sebelum bencana terjadi,” ujarnya. (R2/HR-Online)

Berita Terkait

Foto Hoax Banjir di Pangandaran Jadi Viral di Medsos, Bupati: Itu Sangat Merugikan

DPKPBD: Bencana Banjir dan Longsor di Pangandaran Terjadi di 30 Titik

Meski Diterpa Info Hoax di Medsos, Pangandaran Tetap Ramai Dikunjungi Wisatawan

- Advertisment -