Jumat, Mei 27, 2022
BerandaBerita CiamisRSUD Ciamis Kerap Overload, Pemkab Siasati Alihkan Pasien ke Puskesmas

RSUD Ciamis Kerap Overload, Pemkab Siasati Alihkan Pasien ke Puskesmas

Wakil Bupati Ciamis, Oih Burhanudin. Foto: Dokumen HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Wakil Bupati Ciamis, Oih Burhanudin, mengungkapkan, sering terjadinya komplen serta keluhan dari pasien terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciamis ternyata lebih disebabkan akibat masalah overload kapasitas. Menurutnya, jumlah pasien yang selalu membludak pada setiap harinya sudah tidak sebanding dengan jumlah ruangan dan tenaga medis yang dimiliki RSUD Ciamis.

“Dalam beberapa bulan terakhir ini saya sering mendapat pengaduan dari masyarakat terkait pelayanan RSUD Ciamis. Begitupun saya sering membaca di media massa soal keluhan pelayanan RSUD. Sebagai wakil bupati, saya kemudian tergerak untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di RSUD. Hal itu untuk mencari solusi agar pelayanan RSUD tidak terus-terusan mendapat komplen dari masyarakat,” ujarnya, kepada Koran HR, Senin (02/10/2017) lalu.

Oih pun mengaku dirinya sudah melakukan cros cek ke RSUD Ciamis dan melakukan diskusi dengan Kepala Dinas Kesehatan serta Direktur RSUD Ciamis. Hal itu dilakukan guna mencari akar masalah yang kerap menimbulkan komplen dari masyarakat.

“Dari hasil pengecekan dan diskusi itulah akhirnya ditemukan akar masalahnya. Masalah pertama adalah terkait kapasitas ruangan di RSUD Ciamis yang sudah overload seiring jumlah pasien yang terus membludak. Kedua, tidak sebandingnya jumlah tenaga medis, terutama dokter spesialis, ketika menghadapi gelombang pasien yang tak henti-hentinya. Dua masalah ini yang menjadi penyebab utamanya, sehingga seringkali pasien tidak terlayani dengan maksimal,” terangnya.

Oih menambahkan, dari catatan Dinas Kesehatan dan manajemen RSUD Ciamis, dari sekian pasien yang datang ke RSUD Ciamis, sekitar 40 persennya sebenarnya masih bisa ditangani oleh klinik puskesmas atau klinik swasta. Namun masalahnya, masyarakat lebih memilih berobat ke rumah sakit ketimbang ke klinik puskesmas.

“Padahal, ketersedian dokter, alat kesehatan dan obat-obatan di klinik puskesmas tak kalah bagusnya. Karena Pemkab Ciamis sudah melakukan revitalisasi di seluruh puskesmas yang ada di Kabupaten Ciamis. Hanya masalahnya soal kepercayaan masyarakat belum tumbuh terhadap pelayanan puskesmas. Sugesti mereka masih percaya terhadap pelayanan rumah sakit,” ujarnya.

Oih mengatakan, untuk mengubah kepercayaan masyarakat agar mau berobat ke puskesmas, perlu adanya edukasi dan sosialisasi yang dilakukan berbagai pihak. Dalam hal ini, lanjut dia, Dinas Kesehatan sebagai leading sektor puskesmas harus melakukan promosi secara gencar agar kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan puskesmas semakin meningkat.

“Dinas Kesehatan bisa menggandeng aparat desa atau dokter praktek untuk menjaring pasien dalam mempromosikan pelayanan puskesmas. Apabila upaya promosi itu berhasil, saya yakin gelombang pasien ke RSUD dengan sendirinya akan menurun. Selain itu, klinik puskemas pun akan semakin menggeliat perkembangannya,” ujarnya.

Menurut Oih, terjadinya kasus penolakan pasien penyakit saraf akibat adanya pemberlakukan kuota pasien di RSUD Ciamis, yang terjadi beberapa waktu lalu, sebagai bukti tidak seimbangnya antara jumlah pasien dengan jumlah tenaga medis.

“Bayangkan saja, dokter spesialis saraf di RSUD Ciamis hanya satu orang. Sementara jumlah pasien yang datang pada setiap harinya mencapai puluhan orang. Dokter pun manusia yang memiliki rasa lelah. Kalau dokternya lelah karena terlalu banyak pasien, kemudian dia salah mendiagnosa, tentunya itupun akan jadi masalah baru. Bahkan masalahnya bisa lebih besar,” katanya.

Namun begitu, lanjut Oih, pihak RSUD Ciamis sudah mencabut kebijakan pembatasan pasien tersebut. Solusinya, kata dia, pasien penyakit saraf yang hanya melakukan pengobatan rawat jalan, dirujuk ke dokter umum atau dokter puskesmas.

“Solusi itupun sempat ada kendala dengan BPJS. Karena penyakit khusus seperti saraf tidak bisa diklaim asuransinya kalau berobat ke dokter umum. Tetapi kemarin sudah kami lobi pihak BPJS-nya. Dan akhirnya pihak BPJS membolehkan dengan memberikan pengecualian untuk di daerah seperti Ciamis yang masih kekurangan dokter spesialis,” ujarnya. (Bgj/Koran HR)

- Advertisment -